Selasa, 29 Januari 2008

Selamat Jalan Jusuf Ronodipuro

Oleh Iwan Piliang

Senin, 28 Januari 2008. Pukul 10.20. Di pagar rumah nomor 20 di Jalan Teluk Betung, Menteng, Jakarta Pusat itu tampak coretan graffiti bertuliskan iwank. Pagar putihnya sudah lusuh mendekati abu-abu. Di depan rumah, yang menutup bahu jalan Teluk Betung itu, seratus kursi, dijejerkan empat-empat, lima ke belakang, di bawah sebuah tenda putih.

Ada lima deret kursi ke belakang, belum terisi penuh. Jasad almarhum Jusuf Ronodipuro, pahlawan yang menyiarkan ulang teks proklamasi di RRI di saat Indonesia Merdeka, 17 Agustus 1945,yang juga menggugah Ibu Sud menciptakan lagu Berkibarlah Benderaku itu. Ia meninggal pada 27 Januari 2008, pukul 23.00 WIB, dan Senin (28 Januari 2008) siang ini pada pukul 11.30 diberangkatkan ke Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan.

Di kanan pintu pagar mencolok sebuah karangan bunga, dari Walikota Jakarta Pusat. Sosok Muhayat, sang walikota, memang tampak duduk di salah satu kursi. Di sebelah kirinya, sebuah karangan bunga kecil dari Perpustakaan Nasional. Karangan bunga lain bisa dihitung dengan jari, antara lain, dari LP3ES, Sekjen Dephan, Ikatan Sarjana Kedokteran UI.

Media pun tak banyak merubung. Saya melihat hanya ada wartawan SCTV, MetroTV dan RRI. Sehingga ketika Fauzi Bowo, Gubernur DKI, yang tampak melayat, berjalan keluar pagar tanpa halangan. Ada mantan Gubernur Soeprapto, yang datang dengan jalan sudah agak pincang. Ada Sri Edi Swasono, disusul Awaludin Jamin, mantan Kapolri. Tak berselang lama sebuah mobil Camry menteri B 18, yang ditumpangi Juwono Sudarsono, Menhamkam, pun muncul. Ia pemimpin satu-satunya yang memperhatikan Jusuf Ronodipuro, sejak saat dirawat di rumah sakit MMC, Jakarta Selatan, hingga dipindahkan ke RSPAD.

Di ruang dalam rumah, jasad Jusuf dibaringkan di atas karpet yang juga sudah lusuh. Saya, Alif Hesrudin Gaffar dari GNM3 (Gerakan nasional menuju Masyarakat Madani), Soeprapto, mantan Gubernur DKI, dan sekitar enam orang tamu lain berdoa dipandu seorang ustad.

Di dinding ruang tamu itu, saya tak melihat lagi koleksi lukisan Jusuf, yang menurut saya langka, dan luar biasa. Termasuk lukisan diri Jusuf yang dibuat oleh Basuki Abdullah di tahun 1960-an sudah tak ada lagi di dinding. Saya pernah membaca di sebuah majalah pada medio 2007 lalu, bahwa koleksi lukisan bersejarah tentang Chairil Anwar, yang sedang menggubah sajak Aku yang fenomenal itu, sudah dijual dan dikoleksi seorang pengusaha di Jogja.

Saya tak tahu, apakah lenyapnya lukisan bagus-bagus dan bersejarah di ruang tamu Jusuf, menjadi pertanda bertukarnya dengan sejumlah besar uang yang dihabiskan untuk merawat penyakit Jusuf yang memang sudah parah sejak September 2007 lalu. Entahlah!

Kepada saya Irawan Ronodipuro, puteranya, pernah mengeluh akan beban yang harus dipikul oleh keluarga mereka.

Keadaan memang menjadi berbanding terbalik antara bumi dan langit jika melihat liputan almarhum Soeharto , juga jika melihat licin-licinnya mobil yang datang dan harumnya tamu yang muncul mengantar jenazahnya, mulai dari Cendana, ke halim hingga ke Solo dan pemakaman.

Rumah almarhun Jusuf di Jalan Teluk Betung, itu tetap saja bersahaja. Dan jasad Jusuf ada di sana.

Saya menduga, jika pun almarhum Jusuf dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata, siang ini pukul 12.00, terlebih karena keadaan dan keinginan keluarga yang ditinggal, bukan karena keinginan hati kecil Jusuf, sosok yang saya kenal, sosok yang mengedepankan pentingnya integritas dan hatinura ni. Toh ketika kita menghadap sangkhalik tidak membawa apa-apa***

Soekarno - Sejarah yang tak Memihak

Posted by Iman Brotoseno

Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno.

Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator.

Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno.

Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak (almarhum) sedang menangis sesenggukan. " Pak Karno seda" ( meninggal )

Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso.
Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ).

Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno.
Jenderal KKO Hartono - Panglima KKO - pernah berkata "Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO "

Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun,
dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena
dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.

Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah.
Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.

The winner takes it all.

Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor. Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang.

Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan.

" Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah saya lagi ,demikian Bung Karno menenangkan istrinya.

Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan ke dalam karantina di Wisma Yaso. Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London. Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya.

Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya.

Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri.
Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso.

Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta dan Ali Sadikin - Gubernur Jakarta - yang juga berasal dari KKO Marinir.

Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak.

Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya.

Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk.

Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !.

Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah. Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah,sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain.

Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeinginan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor.

Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota. Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir.
Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.

Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa,

" Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban.

Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan. "

( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )
dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak
7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran.

Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.


( Kompas 11 Mei 2006 )
Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut, "Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat.
Tetapi dari Kowad".

( Kompas 13 Januari 2008 )
Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan.

Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan
ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden !


Malam semakin panas.
Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik.
Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ?

Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah.

Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.



Kesadaran adalah Matahari

Kesabaran adalah Bumi

Keberanian menjadi cakrawala

Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata

( * WS Rendra )

Senin, 28 Januari 2008

BEDA PEMAKAMAN BUNG KARNO & PAK HARTO

PADA 27 Januari 2008 pukul 13.10, mantan Presiden Soeharto wafat. Jenazahnya disemayamkan di kediamannya, Jalan Cendana, dan dilayat pejabat tinggil negara, mulai presiden, wakil presiden, sampai para menteri. Masyarakat umum berjubel di sepanjang Jalan Cendana menonton para tetamu.

Senin pagi, 28 Januari 2008, ini jenazah mantan orang nomor satu RI itu diterbangkan ke pemakaman keluarga di Astana Giribangun. Ketua DPR Agung Laksono akan bertindak secara resmi dalam pelepasan jenazah di Jalan Cendana, Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin pelepasan di Halim Perdanakusumah. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi inspektur upacara di Astana Giribangun.

Astana Giribangun yang diperuntukkan keluarga Nyonya Suhartinah Soeharto didirikan di Gunung Bangun yang tingginya 666 meter di atas permukaan laut. Cangkulan pertama dilakukan Tien Soeharto Rabu Kliwon, 13 Dulkangidah Jemakir 1905, bertepatan dengan 27 November 1974.

Dengan menggunakan 700 pekerja, bangunan yang merupakan gunung yang dipangkas tersebut diselesaikan dan diresmikan pada Jumat Wage, 23 Juli 1976. Jadi 30 tahun sebelum meninggal, Soeharto telah mempersiapkan tempat peristirahatan yang terakhir. Hal itu dilakukan Soeharto agar "tidak menyusahkan orang lain".

Soeharto memperoleh hak dan fasilitas sebagai seorang mantan kepala negara. Namun, hal yang berbeda dialami mantan Presiden Soekarno. Sewaktu mengalami semacam tahanan rumah di Wisma Yaso (sekarang Gedung Museum Satria Mandala Pusat Sejarah TNI) di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Soekarno tidak boleh dikunjungi masyarakat umum.

Pangdam Siliwangi H.R. Dharsono mengeluarkan perintah melarang rakyat Jawa Barat untuk mengunjungi dan dikunjungi mantan Presiden Soekarno. Kita ketahui, H.R. Dharsono kemudian juga menjadi kelompok Petisi 50 dan meminta maaf kepada keluarga Bung Karno atas perlakuannya pada masa lalu itu.

Putrinya sendiri, Rachmawati, hanya boleh besuk pada jam tertentu. Pada 21 Juni 1970, Bung Karno wafat setelah beberapa hari dirawat di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Beberapa waktu sebelumnya, Rachmawati menanyakan kepada Brigjen Rubiono Kertapati, dokter kepresidenan, kalau Soekarno menderita gagal ginjal, kenapa tidak dilakukan cuci darah? Jawabannya, alat itu sedang diupayakan untuk dipesan ke Inggris.

Itu jelas sangat ironis. Pada masa revolusi pasca kemerdekaan, Jenderal Sudirman menderita penyakit TBC. Ketika itu, obatnya baru ditemukan di luar negeri, yakni streptomycin. Pemerintah Indonesia dalam keadaan yang sangat terbatas dan berperang menghadapi Belanda berusaha mendapatkan obat tersebut ke mancanegara, tetapi nyawa Panglima Sudirman tidak tertolong lagi. Hal itu tidak dilakukan terhadap Ir Soekarno.

Bung Karno dibaringkan di Wisma Yaso setelah wafat di RSPAD Gatot Subroto dan di situ pula dia dilepas Presiden Soeharto dan Nyonya Tien Soeharto. Situasi saat itu memang sangat tidak kondusif bagi Soekarno dan keluarganya. Beberapa hari sebelumnya, yakni 1 Juni 1970, Pangkopkamtib mengeluarkan larangan peringatan hari lahirnya Pancasila setiap 1 Juni. Soekarno sedang diperiksa atas tuduhan terlibat dalam percobaan kudeta untuk menggulingkan dirinya sendiri. Pemeriksaan tersebut dihentikan setelah sakit Bung Karno semakin parah.

Pada 22 Juni 1970, jenazah sang proklamator dibawa ke Halim Perdanakusumah menuju Malang. Di Malang disediakan mobil jenazah yang sudah tua milik Angkatan Darat, demikian pengamatan Rachmawati Soekarnoputri (di dalam buku Bapakku Ibuku, 1984) yang membawanya ke Blitar.

Sepanjang jalan Malang-Blitar, rakyat melepas kepergian sang proklamator di pinggir jalan. Di sini Soekarno dimakamkan dengan Inspektur Upacara Panglima ABRI Jenderal Panggabean pada sore hari. Sambutan dibacakan sangat singkat.

Soekarno hanya dimakamkan di pemakaman umum di samping ibunya. Seusai acara resmi, rakyat ikut menabur bunga. Karena banyaknya tanaman itu, sampai terbentuk gunung kecil di atas pusara Sang Putra Fajar tersebut. Namun tak lama kemudian, rakyat yang tidak kunjung beranjak dari makam kemudian mengambil bunga-bunga itu sebagai kenangan-kenangan. Dalam tempo singkat, makam Bung Karno kembali rata sama dengan tanah.

Pemakaman di Blitar itu berdasar Keputusan Presiden RI No 44/1970 tertanggal 21 Juni 1970. Keputusan tersebut diambil dengan berkonsultasi bersama pelbagai tokoh masyarakat. Padahal, Masagung dalam buku Wasiat Bung Karno (yang baru terbit pada 1998) mengungkapkan bahwa sebetulnya Soekarno telah menulis semacam wasiat masing-masing dua kali kepada Hartini (16 September 1964 dan 24 Mei 1965) dan Ratna Sari Dewi (20 Maret 1961 dan 6 Juni 1962). Di dalam salah satu wasiat itu dicantumkan tempat makam Bung Karno, yakni di bawah kebun nan rindang di Kebun Raya Bogor.

Di dalam otobiografinya, Soeharto mengatakan bahwa sebelum memutuskan tempat pemakaman Soekarno, dirinya mengundang pemimpin partai. Jelas Soeharto menganggap itu masalah politik yang cukup pelik. Jadi, pemakaman tidak ditentukan keluarga, tetapi melalui pertimbangan elite politik.

Kemudian, Soeharto melalui keputusan presiden menetapkan pemakaman di Blitar konon dengan alasan tidak ada kesepakatan di antara keluarga. Apakah betul demikian? Sebab, pendapat lain mengatakan bahwa hal itu dilakukan Soeharto demi pertimbangan keamanan. Jika dikuburkan di Kebun Raya, pendukung Bung Karno akan berdatangan ke sana dalam rombongan yang sangat banyak, sedangkan jarak Bogor dengan ibu kota Jakarta tidak begitu jauh. Hal tersebut dianggap berbahaya, apalagi saat itu menjelang Pemilu 1971.

Pemugaran makam Bung Karno juga penuh kontroversi. Pemugaran dilakukan pada 1978 dengan memindahkan makam-makam orang lain itu. Menurut Ali Murtopo di depan kader PDI se-Jawa Timur, ide tersebut berasal dari Presiden Soeharto. Masyarakat tentu bisa menduga bahwa itu dilakukan dalam rangka mengambil hati para pendukung Bung Karno menjelang pemilu. Dalam pemugaran tersebut, keluarga tidak diajak ikut serta. Bahkan, dalam peresmian pemugaran itu, putra-putri Soekarno tidak hadir.

Dalam prosesi pemakaman di Kalitan-Solo, Megawati tidak hadir karena sedang berada di luar negeri. Namun, kabarnya putra tertua Bung Karno, Guntur Sukarno Putra, mewakili keluarga mantan Presiden Soekarno akan datang ke Astana Giribangun. Ketika Soeharto di Rumah Sakit Pertamina, Guruh juga berkunjung. Ini suatu pelajaran sejarah berharga bagi bangsa kita. Jangan lagi kesalahan masa lalu diulang dan marilah kita berjiwa besar.

* Dr Asvi Warman Adam, sejarawan, ahli peneliti utama LIPI

Soeharto`s death a great loss to Asean

JAKARTA (Berita Nasional) : The death of former Indonesian president Soeharto, who is also one of the founders of the Association of South East Asian Nations (ASEAN) which consists of Brunei Darussalam, Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapore, Thailand, The Philippines and Vietnam, is a great loss to the regional grouping.

Expressions of loss came among others from Malaysian foreign minister Syed Hamid Albar,as AFP quoted him saying on Sunday.

Soeharto (86) passed away on Sunday (Jan 27) at 13:10 local time after suffering from multiple organ failure at the Pertamina Hospital in South Jakarta.

The Indonesian second president had undergone intensive medical treatment for 24 days since he was admitted to the hospital on Friday, January 4, 2008, for anemia and severe edema.

Expressing his sadness about Soeharto`s death, Albar said the former Indonesian strong man had contributed a great deal to the economic development of Indonesia, and ASEAN in general.

According to him, Malaysia on Monday will send Deputy Prime Minister Najib Tun Razak and former Prime Minister Mahathir Muhammad and Musa Hitam to concey their last respects and condolences on Soeharto`s death.

Recalling Soeharto`s success to help create political stability in the ASEAN region, Albar said that apart from Indonesia, Malaysia and ASEAN also became a grief-stricken region over the second Indonesian president`s death.

Malaysia and Indonesia enjoyed friendly relations after Soeharto and former Foreign Minister Adam Malik put an end to the confrontation between the two neighboring countries.

Singapore`s Prime Minister Lee Shien Loong arrived in Jakarta on Sunday evening to pay his last respects to the former Indonesian president.

Earlier, Sultan Hassanal Bolkiah of Brunei Darussalam, Deputy Prime Minister of Cambodia Sok An, some other former ASEAN leaders such as Mahathir Mohammad and Norodom Raharidh (son of Cambodian King, Prince Norodom Sihanouk) had visited Soeharto while still under treatment at the Pertamina hospital.

Apart from that, Philippine President Gloria Macapagal Arroyo expressed condolences over the death of former Indonesian president Soeharto on Sunday, saying he "will never be forgotten."

Arroyo hailed Soeharto for his leadership in the South-East Asian region and contributions to building peace in the Philippines` troubled southern region of Mindanao.

"For these enduring legacies, President Soeharto will never be forgotten," DPA quoted Arroyo as saying.

"The government of the Philippines and the Filipino people join me in offering deepest sympathies and condolences on the demise of former president Soeharto," she said in a statement.

"As one of the founding fathers of ASEAN, President Soeharto was among those who had the pioneering vision of establishing a more peaceful, progressive and prosperous South-east Asian region founded on mutual respect and understanding," she said.


State funeral

Top state officials and foreign dignitaries are expected to attend the state funeral, including Malaysian Deputy Prime Minister Najib Tun Razak, former prime minister Mahathir Muhammad, former East Timor president Xanana Gusmao, Singaporean Prime Minister Lee Hsien Loong and his deputy S Jayakumar, and former Philippine president Fidel Ramos.

In addition, all foreign ambassadors to Indonesia are expected to attend the state funeral at the Astana Giri Bangun graveyard in Karanganyar about 30 km southeast of Solo, Central Java.

On Sunday evening, tens of ranking officials and former officials paid their last respects to Soeharto at his Cendana residence, following the arrivals of President Susilo Bambang Yudhoyono and Vice President Jusuf Kalla.

Meanwhile, Japanese Prime Minister Yasuo Fukuda Sunday recalled the former Indonesian President Suharto`s efforts to maintain friendly relations between the two nations, AFP quoted Fukuda as saying on Sunday.

Fukuda sent a message of condolences to current Indonesian president Susilo Bambang Yudhoyono after Soeharto died.

"I sincerely pray that former President Soeharto would rest in peace. President Soeharto had long worked to maintain the friendly and goodwill relations between our nation and Indonesia," Fukuda said in the message.

"I represent the Japanese government and the Japanese public to express our condolences to your government and your people," he said to Yudhoyono.

Meanwhile, report said, Australian Prime Minister Kevin Rudd expressed sorrow at the death of former Indonesian president Soeharto Sunday but described him as a "controversial figure" on human rights and East Timor.

Rudd paid tribute to Soeharto`s role in modernizing Indonesia and his role in helping establish the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) and APEC, describing him as an "influential figure in the Australia region and beyond".

"Now the world`s third largest democracy, Indonesia, is a close friend and neighbor with which Australia shares vital political and security interests," he said.

"Indonesia`s success as a modern democracy is a major interest not just to Australia, but to our region and the world," he said.

Report said from Dili, Timor Leste, that General Chairman of the National Council of East Timor Reconstruction Party (CNRT) Xanana Gusmao extended his condolences over the death of Soeharto.

"As a human being, Xanana expressed his deep condolences," Secretary General of CNRT Party Dionisio `Didi` Babo, Soares PhD through a statement directly sent to ANTARA News in Dili, on Sunday afternoon.

In the name of the CNRT party of Timor Leste, his side was reported to share the condolences with the people of Indonesia over the death of the former New Order strongman.

According to him, even though Xanana was once jailed during Soeharto`s regime, he still showed humanistic solidarity by extending his condolences.

Xanana Gusmao was jailed when East Timor was still the 27th province of Indonesia during Soeharto`s rule.

After the independence of East Timor through a referendum, Xanana Gusmao become the first president of Timor Leste.

Recalling his merits to Cambodia, Soeharto who was also dubbed as the smiling general in the country, contributed a very significant meaning for the Cambodian stability following the internal political problems in decades ago.

It seems that the visit of Cambodian leaders to Jakarta to pay their last respects to Soeharto, the country will not forget Indonesia`s role when Jakarta hosted the Jakarta Informal Meetings (JIM) I, II and III which led to Cambodian political stability. (Bustanuddin/antara)

Jumat, 25 Januari 2008

Dan...Indonesia pun Tergadai

AKHIRNYA, Soeharto tunduk kepada kemauan IMF dan menandatangani Letter of Intent. Di butir-butir tersebut-lah Indonesia kehilangan kedaulatan ekonominya sejak 15 Januari 1998. Berikut adalah sebagian kecil dari butir-butir kesepakat an dengan IMF yang menunjukkan bahwa kedaulatan ekonomi dan moneter itu lepas dari tangan kita:

1. Pemerintah diharuskan membuat Undang-Undang Bank Indonesia yang otonom, dan akhirnya pemerintah memang membuat undang-undang yang dimaksud. Maka lahirlah Undang-undang no 23 tahun 1999 Tentang Bank Indonesia. Pertanyaannya adalah, seandainya Indonesia masih berdaulat, mengapa untuk membuat Undang-Undang yang begitu penting harus dipaksakan oleh pihak asing?. Kalau Undang-Undangnya dipaksakan oleh pihak asing – yang diwakili oleh IMF waktu itu, terus untuk kepentingan siapa Undang-Undang ini dibuat? Dalam salah satu pasal Articles of Agreement of the IMF (Arcticle V section 1) memang diatur bahwa IMF hanya mau berhubungan dengan bank sentral dari negara anggota. Lahirnya Undang-Undang no 23 tersebut tentu sejalan dengan kemauan IMF. Lantas hal ini menyisakan pertanyaan besar – siapa yang mengendalikan uang di negeri ini? Dengan Undang-undang ini Bank Indonesia memang akhirnya mendapatkan otonominya yang penuh, tidak ada siapapun yang bisa mempengaruhinya (Pasal 4 ayat 2) termasuk Pemerintah Indonesia. Tetapi ironisnya justru Bank Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh IMF karena harus tunduk pada Articles of Agreement of the IMF seperti yang diatur antara lain dalam beberapa contoh pasal-pasal berikut :

Article V Section 1, menyatakan bahwa IMF hanya berhubungan dengan bank sentral (atau institusi sejenis, tetapi bukan pemerintah) dari negara anggota.

Article IV Section 2, menyatakan bahwa sebagai anggota IMF Indonesia harus mengikuti aturan IMF dalam hal nilai tukar uangnya, termasuk didalamnya larangan menggunakan emas sebagai patokan nilai tukar.

Article IV Section 3.a., menyatakan bahwa IMF memiliki hak untuk mengawasi kebijakan moneter yang ditempuh oleh anggota, termasuk mengawasi kepatuhan negara anggota terhadap aturan IMF.

Article VIII Section 5, menyatakan bahwa sebagai anggota harus selalu melaporkan ke IMF untuk hal-hal yang menyangkut cadangan emas, produksi emas, expor impor emas, neraca perdagangan internasional dan hal-hal detil lainnya.

Pengaruh IMF terhadap kebijakan-kebijakan Bank Indonesia tersebut tentu memiliki dampak yang sangat luas terhadap Perbankan Indonesia karena seluruh perbankan di Indonesia dikendalikan oleh Bank Indonesia. Dampak lebih jauh lagi karena perbankan juga menjadi tulang punggung perekonomian, maka perekonomian Indonesiapun tidak bisa lepas dari pengaruh kendali IMF. Butir-butir sesudah ini hanya menambah panjang daftar bukti yang menunjukkan lepasnya kedaulatan ekononomi itu dari pemimpin negeri ini.

2. Pemerintah harus membuat perubahan Undang-Undang yang mencabut batasan kepemilikan asing pada bank-bank yang sudah go public. Inipun sudah dilaksanakan, maka ramai-ramailah pihak asing menguasai perbankan di Indonesia satu demi satu sampai sekarang.

3. Pemerintah harus menambah saham yang dilepas ke publik dari Badan Usaha Milik Negara, minimal hal ini harus dilakukan untuk perusahaan yang bergerak di telekomunikasi domestik maupun internasional. Diawali kesepakatan dengan IMF inilah dalam waktu yang kurang dari lima tahun akhirnya kita benar-benar kehilangan perusahaan telekomunikasi kita yang sangat vital yaitu Indosat.

Hal-hal tersebut diatas, baru sebagian dari 50 butir kesepakatan pemerintah Indonesia dengan IMF. Namun dari contoh-contoh ini, dengan gamblang kita bisa membaca begitu kentalnya kepentingan korporasi asing besar, pemerintah asing dan institusi asing (yang oleh John Perkins disebut sebagai korporatokrasi yang mendiktekan kepentingan mereka ketika kita dalam posisi yang sangat lemah, yang diawali oleh kehancuran atau penghancuran nilai mata uang Rupiah kita.

Kamis, 17 Januari 2008

Detik-detik Terakhir Wafatnya Bung Karno di Masa Soeharto

JAKARTA, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut.

Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.

Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.

Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur.

Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.

Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa-dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan.
Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit.
Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini
tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.

Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu.

Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.

"Pak, Pak, ini Ega..."

Senyap.

Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.

Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.

Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.

Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.

Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.

"Hatta.., kau di sini..?"

Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.

"Ya, bagaimana keadaanmu, No?"

Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini. Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal.

"Hoe gaat het met jou...?" Bagaimana keadaanmu?

Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan
Soekarno.

Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil.

Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.

Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.

"No..."

Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.

Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.

Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.

Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka.

Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.

Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil.
Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.

Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman,
Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.
Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya.
Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.

Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.

Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.

Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi:Soekarno telah meninggal.(*)

Makin Ramai Bursa Calonbup Empat Lawang

TEBINGTINGGI (Berita Nasional) : Bursa pasangan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Empat Lawang makin semarak, Forum Partai Politik Empat Lawang Bersatu (FPP4LB), terdiri dari 11 parpol yang tak lolos Electoral Threshold (ET) 2004, secara mengejutkan resmi memunculkan pasangan baru sebagai bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Empat Lawang.

FPP4LB mengaku tidak mengusung bakal calon bupati/wakil bupati Empat Lawang yang sudah familiar saat ini. Mereka akan mengusung pasangan Kol CPL Purn H Rusman Azhari Amantjik dan Drs Idham Madani sebagai bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Empat Lawang pada pemilukada 2008.

Dari akumulasi jumlah suara yang sah dari anggota FPP4LB mencapai 16,35 persen, artinya syarat minimal untuk mengusung pasangan calon terpenuhi bahkan terlampaui.

"Artinya dari jumlah akumulasi suara melebihi syarat minimum untuk mengusung pasangan calon sebesar 15 persen," kata Ketua Deklarasi FPP4LB Abadi Tumanggung.
Kemunculan pasangan Rusman-Idham dikatakan tidak terlambat dibandingkan bakal calon Bupati lain seperti Abdul Shobur, Yulizar Dinoto atau Budi Antoni Aljufri, menurut Rusman, sengaja pihaknya membuat kemunculan dalam kancah pemilukada secara mengejutkan.

Kemunculannya bisa dikatakan terlambat, bisa juga tidak, dikatakan terlambat jika dibandingkan mereka (bakal calon lain) yang sudah memulai menonjolkan diri sebagai bakal calon bupati, namun kemunculan Rusman-Idham melalui proses pematangan, "dalam mengambil keputusan melalui pertimbangan dan tak serta merta bersamaan dengan terbentuknya Empat Lawang, dengan kondisi saat ini, kami terpanggil mengabdi untuk masyarakat Empat Lawang," katanya.

Hal senada dikatakan Abadi, Sebelas parpol sudah merapatkan diri sejak enam bulan lalu dan mencari figur yang bakal diusung dalam pemilukada Empat Lawang, banyak calon kepala daerah yang bisa diusung oleh forum partai politik."Partai kecil tengah memang menjadi primadona dibandingkan partai besar.

Namun dalam mencari figur, kita harus selektif," katanya, Mengenai deklarasi yang dilakukan oleh kepengurusan partai tingkat provinsi, menurut Ketua PNI Marhaenisme Sumsel, Moestofa Kamal Alamlah, karena kepengurusan partai di tingkat Kabupaten Empat Lawang belum banyak terbentuk. "Kami (pengurus provinsi) mengambil inisiatif dilakukan oleh pengurus provinsi, namun dalam deklarasi, akan dihadirkan pengurus partai dari Empat Lawang," ujarnya.

TNI-Sipil

Pasangan Rusman-Idham merupakan campuran dari unsur militer/TNI dan sipil/birokrat,Rusman adalah pensiunan dari TNI AD dengan pangkat terakhir Kolonel berdinas di Mabes AD sebagai Staf Ahli KSAD.

Sementara Idham merupakan sosok seorang birokrat yang masih aktif menjabat sebagai Sekretaris DPRD Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung.

Menurut Abadi, pasangan tersebut dinilai sangat cocok untuk daerah Empat Lawang, selain karena keduanya merupakan putra daerah asal Empat Lawang, Kabupaten Empat Lawang merupakan kabupaten baru yang memerlukan pola kepemimpinan yang berbeda.

"Mungkin ini pasangan militer-sipil pertama yang muncul dalam pemilukada di sejumlah daerah di Sumsel," katanya, duet tersebut muncul berdasarkan aspirasi pendukung serta pemilih dari sebelas partai. Pasangan itu diharapkan menjadi pasangan yang ahli memimpin rakyat, kuat, tegas tetapi tidak kaku. (sgn)

Senin, 14 Januari 2008

Pemborosan APBN Capai Rp232 Triliun

JAKARTA (Berita Nasional) : Belanja negara Rp771,1 triliun dalam APBN 2007 tidak tepat sasaran. Pasalnya, sekitar Rp232 triliun terindikasi pemborosan karena habis untuk kepentingan birokrasi.

Data Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) mencatat indikasi pemborosan dalam belanja birokrasi yang dilakukan pemerintah pusat mencapai Rp102 triliun. Hal yang sama terjadi pada realisasi APBD tahun 2007.

Belanja birokrasi dalam APBD tahun 2007 di 467 daerah yang mencakup 33 provinsi dan 434 kabupaten/kota mencapai Rp130,4 triliun atau menyedot 39% total dana APBD.

Indikasi pemborosan tersebut, menurut Fitra, terlihat dari belanja birokrasi yang dialokasikan untuk pembangunan sarana dan prasarana yang tidak perlu.

"APBN dan APBD tahun 2007 belum dikelola untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Belanja negara akhirnya lebih banyak dialokasikan untuk membayar utang dan belanja birokrasi. Hampir seluruh departemen dan lembaga pemerintah menghabiskan 60%--70% anggarannya untuk kebutuhan birokrasi," kata Sekjen Fitra Arif Nur Alam di Jakarta, Minggu (13-1).

Buruknya kualitas belanja pemerintah terlihat dalam besarnya porsi belanja birokrasi daripada sektor utama yang seharusnya mendapat prioritas, seperti pendidikan dan kesehatan.

Arif menyebutkan kedua sektor tersebut hanya mendapat Rp66,6 triliun atau 8,9% dari total belanja negara dalam APBN 2007. "Dari Rp51,3 triliun (6,9%) anggaran pendidikan sebagian besar dihabiskan untuk birokrasi Rp29 triliun, gaji dan tunjangan Rp4,8 triliun, dan perkantoran Rp2,7 triliun. Hal seperti ini tidak hanya terjadi di Departemen Pendidikan Nasional," ujar Koordinator Analisis Fitra, Yeni Sucipto.

Pada umumnya belanja bantuan sosial dalam APBD didominasi kentalnya kepentingan politis kepala daerah.

"Belanja daerah Rp12,62 triliun atau 4% dari total belanja daerah Rp339,34 triliun, ternyata lebih banyak dikucurkan untuk tujuan politis kepala daerah terhadap para konstituennya," kata staf Fitra, Roy Salam.

Umumnya, bantuan politik berupa uang tunai dan barang yang dikemas dalam bentuk kegiatan sosial itu berupa bantuan pembangunan tempat ibadah dan pangan. Salah satu lembaga yang selama ini mendapat jatah dari dana bantuan sosial ini adalah partai politik.

Padahal, menurut Roy, Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006 jelas meminta pemda mengalokasikan bantuan sosial setelah urusan wajib terpenuhi.

Dari 467 daerah yang dipantau Fitra, porsi bantuan sosial terbesar terdapat di Provinsi Papua yang mencapai Rp1,05 triliun atau sekitar 6,13% dari total APBD-nya, yakni Rp17,23 triliun. Sedangkan porsi terkecil bantuan sosial ditemukan di Provinsi Bali yang hanya 1,07% atau Rp64,7 miliar dari total APBD-nya yang berjumlah Rp6,04 triliun.

Pada kesempatan meresmikan Silaturahmi Kerja Nasional ICMI di Pekanbaru, kemarin, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Aburizal Bakrie mengungkapkan anggaran pengentasan kemiskinan tahun ini meningkat 50% dari tahun lalu atau menjadi Rp80 triliun. Pada tahun 2005, program tersebut dianggarkan Rp18 triliun, tahun 2006 Rp32 triliun, dan tahun 2007 Rp42 triliun.

Dia mengakui persoalan penanggulangan kemiskinan terkendala kurangnya koordinasi antarsesama instansi pemerintah. Sebelumnya Departemen Keuangan (Depkeu) menilai perkembangan kinerja APBN-P tahun 2007 memuaskan. Hal itu tercermin dari kualitas belanja APBD yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. (*)

Nasib Warga Miskin Makin Tak Menentu

KOTAAGUNG (Berita Nasional) : Nasib ratusan rumah tangga miskin (RTM) di Kecamatan Kotaagung, Tanggamus, Lampung, akhir-akhir ini makin tak menentu.Setelah dibuat semaput dengan tingginya harga beras di pasaran yang mencapai Rp6.500 per kilogram, kini mereka kesulitan mendapatkan minyak tanah di tingkat pengecer.
Warga RT 08/03 Kelurahan Baros, Kecamatan Kotaagung, Ruminah (57), mengaku pasrah dan tidak bisa berpikir lagi menghadapi kenyataan hidup dari ke hari yang kian sulit.
Saat harga beras asalan Rp4.500 per kilogram saja, janda lima anak ini harus banting tulang dan memeras keringat agar bisa makan sehari dua kali tanpa lauk-pauk.

"Sekarang, harga beras paling murah Rp6.500/kg, membuat kepala saya mau pecah. Entah bagaimana nasib saya ke depan," kata Ruminah sembari menetap langit-langit rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu yang sudah bolong-bolong, Jumat (11-1).

Yang membuat Ruminah tambah stres menghadapi kenyataan, yaitu sulitnya mendapatkan minyak tanah walau hanya untuk mengisi kompor sekitar dua liter dan lampu sentir yang selama ini menjadi pelita (penerangan) di malam hari.

"Nyari minyak tanah selama hampir tiga bulan ini luar biasa susahnya. Harus antre atau lari-lari dari satu warung ke warung lain. Harganyanya juga sudah mencapai Rp3.000/liter," katanya.
Nasib serupa juga dialami ratusan rumah tangga miskin (RTM) lain yang berada di Kotaagung। Mereka umumnya berprofesi sebagai buruh kasar, tukang becak, tukang ojek, dan nelayan gurem.

Saat harga-harga semakin melambung tinggi, mereka hanya bisa mengeluh dan tidak bisa berbuat apa-apa.

"Harga raskin (beras untuk keluarga msikin) saja sekarang naik, dari Rp1,200/kg, dipatok Rp1.600/kg," kata Asnah, warga kelurahan Pasar Madang, Kotaagung, yang suaminya hanya bekerja sebagai buruh di Pasar Kotaagung.

Bagi ratusan RTM, bisa makan sehari dua kali dengan porsi yang dikurangi separonya saja sudah untung। Jangan mimpi jika makanan mereka itu mencukupi empat sehat lima sempurna. Makan dengan nasi putih, ditambah ikan asin atau sepotong tempe goreng, dan sayur bening bagi mereka sudah merupakan makanan istimewa dan mahal.

Minum susu dan makan buah-buahan bagi mereka seperti dalam angan-angan."Boro-boro mau minum susu dan makan buah-buahan dan daging. Untuk beli beras sekilo dan minyak tanah seliter saja saya harus kerja dari pagi sampai malam. Itu pun belum tentu dapat. Belum lagi mikirin biaya sekolah anak-anak, terus kalau ada yang sakit, tidak bisa dibayangkan lagi," kata Mardi, tukang ojek di Pasar Kotaagung.(*)

Salam Doa Wartawan Tua

Oleh ROSIHAN ANWAR
BERKAITAN dengan telah tiba saatnya kita memasuki Tahun Baru 2008, terimalah salam hormat dari seorang wartawan tua beserta doa।

Saya doakan wartawan Indonesia, baik yang sudah memenuhi standardisasi profesional dan kompetensi, maupun yang belum memperolehnya, baik yang sudah mantap maupun yang masih susah agar tetap bekerja sesuai dengan tradisi pers pergerakan nasional pada awal abad ke-20 yaitu melindungi golongan yang lemah dan terjajah, membela rakyat yang dizalimi oleh penguasa, atau dalam bahasa kaum muda sosdem (sosial demokrasi) sekarang agar memihak kaum miskin atau pro-poor.

Dengan begitu, wartawan Indonesia tetap jujur pada dirinya, berbuat benar menaati jati diri dan idealismenya.

Kepada sesama anak bangsa, saya sampaikan salam silaturahmi disertai doa semoga kita semua mampu menjaga agar Indonesia tetap jujur terhadap dirinya, mampu menegakkan martabat dan harga dirinya, tidak terombang-ambing di tengah pergolakan globalisasi dunia dan tersihir oleh pengaruh neokapitalisme dan neoliberalisme yang tidak berperikemanusiaan.

Betapa pun sulitnya dirasakan beban tekanan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, betapa pun suramnya masa depan, betapa besarnya kekecewaan akibat ketertingggalan Indonesia dari negeri-negeri lain di kawasan Asia Tenggara, namun janganlah lupa berterima kasih tiap hari kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Jika di negara lain di benua lain terdapat peperangan, pengeboman, pembunuhan, kita di Indonesia relatif masih aman. Oleh karena itu, marilah kita bersyukur tiap kali bangun pagi kepada Tuhan Yang Maha Pelindung.

Banyak generasi muda, kendati telah menyelesaikan studi dan meraih gelar kesarjanaan, amat sulit memperoleh pekerjaan. Banyak rakyat kita mengalami pengangguran, menghadapi kesukaran di bidang pendidikan, kesehatan dan mereka tidak bisa keluar dari keterpurukan karena pemimpin yang tanpa visi dan tanpa peduli, karena elite dan oligarki politik dan bisnis lebih sibuk dengan kepentingan dan kekuasaannya sendiri ketimbang menolong rakyat yang mayoritas.

Dalam keadaan sulit demikian, kita makin terdorong mendoakan dan mengharapkan supaya anak bangsa mengubah kehidupannya, mentransformasi sikap dan wataknya. Mereka yang terimpit dalam kesakitan agar berusaha bangkit berdiri menjadi insan yang kreatif dan bekerja walaupun di bidang terbatas dan sekecil-kecilnya. Namun, mereka yang di atas memegang kekuasaan berubah menjadi insan yang menaruh welas-asih dan memberikan perhatian kepada keadilan dan kesejahteraan sosial bagi rakyat ini yang telah begitu lama menderita.

Saya doakan agar kita semua punya sikap membantu orang-orang lain. Jangan lupa memuliakan kaum ibu kita, usahakan memberdayakan kaum perempuan supaya mereka lebih tangguh berfungsi sebagai pendidik anak bangsa. Ingat selalu ibu-ibu kita yang selama sembilan bulan mengandung anak mereka, kemudian membesarkan dan mengasuh anak dengan kasih sayang. Kita berutang budi pada mereka. Bantulah mereka.

Saya doakan agar dalam keadaan bagaimanapun juga kita tetap bersikap positif. Tidak terus mengomel dan mengkritik. Berusaha mengurangi kesenjangan sosial dan melenyapkan kecemburuan sosial. Berusaha bersama-sama mencari cahaya terang di ujung terowongan gelap. Berusaha memperbaiki lingkungan hidup.

Tidak ada yang orisinal, tidak ada yang luar biasa dalam salam dan doa di atas tadi. Saya hanya mengutip filsafat Oprah Winfrey, tokoh media televisi ternama di Amerika, seorang Afro-America, talkshow hostess yang berpengaruh dan berwibawa. Filsafat Oprah dirumuskan dalam kata-katanya sendiri adalah (1) Be true yourself, (2) Be grateful every day, (3) Transform your life, (4) Help others, (5) Stay positive.

Mungkin biasa-biasa saja kedengarannya, tetapi bagi saya cukup mengesankan justru karena biasa-biasa itu, namun mengandung suatu kebenaran yang mendalam. Dengan pengharapan agar bangsa Indonesia dalam tahun 2008 akan lebih baik keadaannya, sekali lagi bersama ini terimalah salam dan doa akhir tahun dari seorang wartawan tua. Semoga Tuhan memberkati kita semua.***

*) Penulis, wartawan senior.

QUO VADIS UGM?

JURUSAN Komunikasi UGM serta Pusat Pengkajian dan Penelitian Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI telah mengerjakan penelitian pesanan dari PT Asian Agri, anak perusahaan PT Raja Garuda Mas milik Soekanto Tanoto, pengusaha yang disebut majalah Forbes sebagai orang terkaya di Indonesia pada 2006 dan terkaya kedua 2007.

Penelitian itu menyatakan bahwa pemberitaan Tempo--mengenai indikasi penggelapan pajak senilai Rp 1,3 triliun yang dilakukan PT Asian Agri--tak menaati kaidah jurnalistik dan bersifat tendensius. Hasil penelitian itu telah dipaparkan dalam seminar publik "Menguak Misteri di Balik Berita Kasus Pajak Asian Agri": Pertaruhan Kredibilitas, Nama Baik dan Obyektivitas”, di Hotel Sultan, Jakarta, 18 Desember 2007.

Apa yang disampaikan Tempo bukan omong kosong. Temuan awal tim investigasi Dirjen Pajak Departemen Keuangan yang dipublikasikan pada 14 Mei 2007 menyebut, negara dirugikan sebesar Rp 786 miliar, jumlah penggelapan pajak terbesar dalam sejarah Republik!

Dengan bersedia mengerjakan proyek penelitian ini, Jurusan Komunikasi UGM telah bersikap partisan terhadap korporasi yang diduga kuat telah menilap uang negara. Fokus penelitian Jurusan Komunikasi UGM bisa dianggap sebagai bentuk pengalihan isu dari "korupsi pajak PT Asian Agri" ke arah "etika jurnalistik".

Penelitian itu boleh jadi "bisa dipertanggungjawabkan" secara akademik, tetapi siapa yang akan mempertanggungjawabkan implikasi dari penelitian itu? Kesimpulan penelitian ini merupakan pintu gerbang untuk menjerat media--dalam hal ini Tempo--dengan undang-undang yang dimaksudkan untuk melindunginya, yaitu UU Pokok Pers.

Kita pantas meragukan integritas Jurusan Komunikasi UGM sebagai institusi akademik. Karena itu, kami menyatakan:
1. Menuntut Jurusan Komunikasi UGM meminta maaf kepada publik dan insan media terkait dengan penelitian pesanan yang dilakukannya dan menyatakan mencabut hasil penelitian tadi untuk menghindari kemungkinan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang bisa merugikan kepentingan umum yang lebih besar.
2. Meminta Senat Akademik UGM memberikan peringatan keras kepada staf pengajar yang terlibat dalam penelitian pesananan PT Asian Agri.

3. Menuntut agar perguruan tinggi menjunjung tinggi etika kesarjanaan dan menegaskan keberpihakannya kepada gerakan pemberantasan korupsi dan kebebasan pers sebagai bagian dari agenda reformasi dan demokrasi sosial.

KOMUNIKE BERSAMA
Komunitas Kembang Merak B-21
BPPM Balairung UGM
Komunitas Malam Selokan Mataram
Lembaga Analisis Sosial dan Kajian Ekonomi Politik
LPM Ekspresi UNY
LPM Himmah UII
LPPM Sintesa Fisipol UGM
Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan
Kota Yogyakarta
LPM Ekonomika FE UII
Masyarakat Peduli Media (MPM) Yogyakarta
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta
LPM Arena UIN Sunan Kalijaga
LPM Natas USD
BPPM Equilibrium FEB UGM
(Sumber: Surat Pembaca Tempo, 7-13 Januari 2008)

Harsutejo: Neraka Rezim Suharto

JUDUL di atas bukanlan bikinan saya, tetapi judul sebuah buku tipis (156 + xi halaman) yang kemudian diikuti sub-judul “Misteri Tempat Penyiksaan Orde Baru” susunan Margiyono dan Kurniawan Tri Yunanto, Spasi & VHRBook, Jakarta, 2007.

Bagi yang mengenal kekejaman rezim Orba, apalagi bagi mereka yang p ernah menjadi tapol Orba, dari sebagian daftar isinya dapat membayangkan apa kira-kira kisah di dalamnya: Bab I Rumah Setan di Gunung Sahari; Bab II Rumah Hantu di Menteng Atas; Bab III Kekejaman di Kremlin [Kramat Lima]; Bab IV Jeritan di Rumah Meester Cornelis; Bab V Horor di Gang Buntu; dst. Kedua penulis muda ini tidak sedang bercerita tentang kisah horor yang banyak muncul di televisi belakangan ini, tapi tentang kekejaman yang dialami para tapol, para terculik yang dilakukan rezim militer Orba Suharto sejak 1965 sampai 1998, bagian dari sejarah kelam horor.

Rumah Setan di Gunung Sahari terletak di Gunungsahari III, sebuah rumah besar milik seorang Tionghoa yang dirampas dan dijadikan markas Operasi Kalong setelah tragedi 1 Oktober 1965. Operasi di bawah Mayor Suroso ini pula yang berhasil menangkap orang keempat PKI Sudisman karena pengkhianatan kawan dekat dan pembantunya. Algojo yang bernama Letnan Bob tersohor kekejamannya, setiap tapol di Jakarta gemetar jika dibon olehnya ke markas Kalong. Alat penyiksa standar berupa pentungan kayu dan karet, buntut ikan pari yang dipasangi paku kecil, kabel dengan lempeng-lempeng yang dialiri listrik. Setiap tapol baru dikejutkan dan dihancurkan mentalnya dengan siksaan alat-alat tersebut, apapun yang diakuinya. Sengatan listrik merupakan ujung kekuatan seorang pesakitan berakhir. Setiap tapol perempuan diperiksa dengan telanjang bulat, demikian juga dengan interogatornya.

Di Kalong tersohor pula legenda seorang aktivis Gerwani bernama Sri Ambar yang tetap bungkam meski telah disiksa dengan gebukan, setruman, kemudian digantung telanjang bulat di pohon mangga. Bokongnya kemudian ditusuk bayonet oleh seorang tentara penyiksa. Siksaan berlanjut dengan didatangkannya ibu dan dua orang anaknya yang masih kecil (ketiganya juga ditahan) untuk menyaksikannya.

Seorang pemuda tapol yang kuat badannya berumur sekitar 30 tahun disiksa habis-habisan dengan gebukan dan sengatan listrik di markas Zinpur 8. Ia juga digantung selama seminggu di Lenteng Agung, banyak bagian badannya mengucurkan darah karena diiris silet. Luka itu kemudian disiram bensin. Ia pun menjadi sasaran latihan lemparan pisau komando. Pada suatu malam badannya ditembus tiga peluru, karena keterangannya masih diperlukan, ia dibawa ke RSPAD Gatot Subroto dan mendapatkan transfusi darah sebanyak 10 liter. Dalam keadaan masih sakit, ia berkali-kali diinterogasi, bahkan dengan disetrum. Ia kemudian dilemparkan ke sel Kodim 0505 Jatinegara, salah satu tempat penyiksaan tapol. Dalam sel 5x6 meter itu ia berjubel bersama 200 tapol lainnya.

Di bagian akhir terdapat kesaksian sejumlah aktivis muda dan mahasiswa, di antaranya dari PRD. Seperti kita ketahui sejumlah aktivis diculik rezim Suharto pada pertengahan pertama 1998 sebelum diktator militer itu jatuh. Sejumlah aktivis setelah diculik, semula berada di instansi militer resmi seperti Kodim Jakarta Timur, disiksa dan diinterogasi di instansi militer [rahasia] dalam keadaan mata terus ditutup. Tiba-tiba mereka sudah dibawa ke Polda Metro Jaya. Sejumlah aktivis kemudia n dibebaskan dalam bulan Juni 1998 setelah tumbangnya sang diktator.
Seperti kita ketahui masih ada 13 orang aktivis yang diculik oleh instansi yang sama di masa itu tidak pernah kembali, di antaranya aktivis buruh sekaligus penyair, Wiji Thukul dengan seruannya yang tersohor: HANYA ADA SATU KATA: LAWAN! Ketika itu seorang petinggi militer, Jenderal Syarwan Hamid yang amat ditakuti karena jabatannya, menyatakan bahwa Wiji Thukul telah menantang pemerintah. Rupanya rezim militer yang perkasa itu takut juga dengan seorang penyair miskin kerempeng.
Instansi militer penculik [rahasia] yang terang identitasnya di mata beberapa Kodim dan Polda Metro Jaya sampai saat ini belum diusut. Di mana 13 pemuda bibit bangsa itu telah dibunuh dan dikubur? Adakah HAM hanya untuk kaum koruptor dan tersangka koruptor serta Jenderal Besar (Purn) Suharto, dan tidak untuk para [bekas] tapol dan aktivis yang melawan kediktatoran rezim militer Orba?
Bekasi, 9 Januari 2008 (dikutip dari wwww.apakabar.ws)

Rahasia Pribadi Sang Benazir


KABAR tentang kematian Benazir Bhutto bukan hanya menyisakan duka mendalam bagi pendukungnya di Pakistan. Melainkan juga kepiluan tak terperi bagi seorang terapis kecantikan, Worro Harry Soeharman, 50 tahun, yang tinggal di Raffles Hills, Cibubur, Jakarta Timur. Wanita berjuluk grand master pijat bioenergi ini pernah hampir sebulan dipercaya merawat kecantikan dan kebugaran Benazir di Istana Perdana Menteri Pakistan, April 1996.

Sosok Benazir yang jelita, tegas, dan selalu tampil percaya diri masih terekam kuat dalam memori Worro. "Kepribadian beliau amat kuat dan mengesankan," ujar mantan kepala pelatih perawat kecantikan Martha Tilaar Group itu. "Sedih mendengar beliau meninggal, apalagi dengan cara dibunuh." Worr o merasa roh Benazir masih dekat dengannya, meski jasadnya telah wafat. Lebih-lebih pada saat ia membuka kembali kerudung putih berenda merah muda kesukaan Benazir yang secara spontan dihadiahkan pada Worro ketika pamitan pulang.

Pada saat Worro hendak mengenakan kerudung itu untuk dipotret Gatra, bibirnya spontan minta izin, "Excuse me, Madam!" Serasa Benazir masih berdiri di depannya. Bulu kuduk sekujur tangan dan tengkuk Worro berdiri. "Merinding rasanya," katanya.

Worro mengaku amat terpesona oleh figur Benazir. "Ia sosok negarawati yang mencurahkan seluruh pikiran dan tenaganya untuk Pakistan. Saya tahu persis, dia amat mencintai rakyat dan negaranya," ujar wanita yang memiliki dokumen keluarga sebagai keturunan Raja Majapahit, Brawijaya V, itu.

Worro merasa amat beruntung dipercaya bekerja di lingkaran dekat tokoh perempuan pertama yang terpilih lewat pemilu demokratis untuk memimpin negara Islam itu. Ia bisa banyak belajar dari keseharian dan kehidupan pribadi Benazir yang tak banyak diketahui khalayak luas. "Beliau berkali-kali mengajarkan pada saya agar menjadi perempuan yang kuat, teguh pendirian, dan punya keyakinan kokoh," kata Worro, mengenang.

"Kata yang paling sering beliau ucapkan, baik dalam pembiacaran via telepon maupun perbincangan langsung, adalah 'exactly' dengan sorot mata tajam. Itu cerminan sikap dasarnya yang punya keyakinan diri kuat," Worro memaparkan.

Sebagai pemimpin negara dengan kehidupan politik dikenal keras, kerap diwarnai aksi pembunuhan pemimpin politik, dan sering terlibat perang urat saraf dengan tetangga, India, karakter Benazir dibentuk menjadi sosok yang teguh. Ia dibesarkan dalam keluarga politisi terkemuka yang menjalani pergolakan politik keras.

Akhir 1970-an, Benazir ikut merasakan imbas politik sebagai putri sulung mantan Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto. Jenderal Zai-ul-Haq, yang menggulingkan Zulfikar, menjebloskan Benazir ke penjara bersama ayah dan ibunya, Nusrat Bhutto. Pada usia 26 tahun (1978), Benazir menyaksikan ayahnya dihukum mati rezim Zia-ul-Haq.

Tujuh tahun kemudian (1985), adik keduanya, Shahnawaz, ditemukan tewas di apartemen di Prancis. Diduga ia diracun akibat sikap kritisnya pada Jenderal Zia. Setelah Zia tewas pada Agustus 1988, Benazir yang tengah hamil sembilan bulan, dengan segala ketegarannya, melakukan perjuangan politik untuk merebut kembali kekuasaan ayahnya yang direnggut Zia.

Sebulan pasca-tumbangnya Zia, Benazir melahirkan putra pertama, Bilawal Bhutto Zardari, akhir September 1988. Keletihan fisik pasca-kelahiran tidak membuat perjuangan Benazir surut. Ia terus berkampanye, hingga memenangkan pemilu terbuka pertama di Pakistan pada 16 November 1988. Benazir dilantik menjadi perdana menteri pada usia 35 tahun, ketika bayi pertamanya belum genap empat bulan.

Prinsip menjadi perempuan kuat yang, antara lain, ditekankan Benazir pada Worro bukanlah sekadar pemanis bibir. Ia telah menjalaninya. Sebelum terjun ke politik, Benazir membekali diri dengan mengambil kuliah bidang perbandingan pemerintahan di Universitas Harvard (1969-1973), Amerika Serikat, dengan yudisium cum laude. Lalu dilanjutkan ke Universitas Oxford, Inggris, mendalami filsafat, politik, dan ekonomi, serta melengkapinya dengan kursus hukum internasional dan diplomasi.

Pada akhir 1977, benih kepemimpinannya mulai terlihat, ketika ia terpilih sebagai Presiden Oxford Union. Ia tercatat sebagai wanita pertama Asia yang memimpin forum debat yang prestisius itu.

Begitu terjun ke gelanggang politik Pakistan, Benazir menjalani pasang surut kehidupan politik. Baru 20 bulan memerintah, pada Agustus 1990, Benazir diturunkan dari kursi perdana menteri. Namun ia berusaha bangkit. Dan, tiga tahun kemudian, Oktober 1993, Benazir terpilih untuk kedua kalinya sebagai perdana menteri.

Lawan politik Benazir pada masa jabatan keduanya bukan hanya "orang lain". Intrik politik juga berlangsung di antara anggota keluarganya. Adik kandungnya, Murtaza Bhutto, memilih garis oposisi terhadap Benazir. Hal ini dipicu ketidaksukaan Murtaza pada perilaku korup suami Benazir, Asif Ali Zardani, yang pernah menjadi Menteri Lingkungan pada pemerintahan pertama Benazir.

Tidak hanya adik kandung, ibunda Benazir, Nusrat Bhutto, yang memihak Murtaza juga beroposisi terhadap Benazir. Hal ini membuat beban Benazir di penghujung kekuasaan keduanya kian berat. Dua bulan sebelum Benazir jatuh, pada September 1996, Murtaza tewas ditembak polisi. Ditengarai akibat perseteruannya dengan suami Benazir. Peristiwa itu membuat Benazir kian tidak populer hingga akhirnya jatuh pada November 1996, diiringi beragam tuduhan korupsi.

Pada tahun terakhir jabatan kedua Benazir itulah, Worro diundang ke istana Benazir di Islamabad. Ia menyaksikan sendiri bagaimana dampak tekanan sosial politik terhadap kehidupan pribadi dan keluarga Benazir. "Pada waktu itu, sedikit sedikit saya mendengar kabar ada bom meledak," papar Worro. Tingkat stres Benazir amat tinggi. Ia kerap tidak bisa tidur dan mengalami ketegangan otot punggung. Tapi Benazir berusaha tegar menghadapi semua itu.

Salah satunya dengan mendatangkan ahli pijat bioenergi dari Indonesia. Kalimat pertama Benazir ketika pertama menyabut kedatangan Worro di ruang pribadinya pada 7 April 1996, pukul 22.30 waktu setempat, "Worro, saya ingin bisa tidur nyaman." Benazir ketagihan pada layanan Worro ketika berkunjung ke Jakarta, Maret 1996. Ia sampai menulis di sehelai kertas, "Thank you for looking after me. I feel really relaxed and happy and ready to work again." Worro pada saat itu dikenal sebagai pemijat banyak tamu negara.

Tak cukup dilayani di Indonesia, Benazir mengundang Worro ke Pakistan. Pijatan Worro diperlukan untuk mengendurkan ketegangan Benazir dalam menghadapi tekanan politik yang bertubi-tubi. Ia paling suka dipijat otot punggung, kepala, dan kaki.

"Sekuat apa pun tampilan wanita di depan umum, ia tetap seorang wanita yang merindukan pelayanan, disentuh, dan dimanja," kata Worro, yang berperan utama mengendurkan otot, urat saraf, dan menciptakan relaksasi mental Benazir. Semua itu bukan hanya akibat tekanan pekerjaan, melainkan juga karena problem kewanitaan, seperti keluhan pinggang pasca-melahirkan dan gangguan emosi akibat menstruasi.

Tiap hari, Benazir menjalani layanan relaksasi dua sampai tiga jam. Sambil bersantai dipijat kakinya, Benazir masih menyempatkan diri menelepon menterinya, untuk memonitor pekerjaan atau merespons perkembangan terbaru. Kepada Worro, Benazir pernah bercerita bahwa ketika di penjara, ia diwasiati sang ayah agar melanjutkan peran politik ayahnya. Maka, gelanggang politik pun menjadi jalan hidupnya.

Sebagai ibu, Benazir juga selalu mengontrol pendidikan tiga anaknya: Bilawal, Bakhtwar, dan Aseefa --pada saat itu masing-masing berusia delapan, enam, dan empat tahun. "Ia selalu mengecek jadwal les dan ngaji anak-anaknya," kata Worro. Pendidikan anak diarahkan pada kemandirian, tanggung jawab, dan kepemimpinan.

Suatu hari, anak sulungnya, Bilawal, tersandung dan jatuh di salah satu sudut istana. Bilawal langsung memarahi suster yang mengasuhnya. "Mengapa kau tidak beritahu aku tempat itu berbahaya?"

Kebetulan Benazir mendengar dan segera menasihati Bilawal dengan lembut. "Darling, kesalahanmu itu akibat perbuatanmu sendiri yang tidak hati-hati. Kamu harus berani menanggung risiko atas tindakan yang kamu pilih," papar Benazir, sebagaimana disaksikan Worro.

Sekarang Bilawal menginjak usia 19 tahun. Bekal prinsip kepemimpinan yang banyak diarahkan ibunya kini dirasa penting. Minggu lalu, ia terpilih sebagai Ketua Partai Rakyat Pakistan (PPP), menggantikan mendiang ibunya. Tugas politik yang pernah dipesankan Zulfikar pada Benazir kini diteruskan Bilawal.

Setelah menuturkan panjang lebar pengalamannya mendampingi Benazir, Worro tiba-tiba tersentak. Ada sesuatu yang terlupa. "Saya belum memanjatkan doa khusus untuk beliau. Habis salat, saya akan berdoa khusus," ujarnya. Usai wawancara, ia mengambil air wudu, lalu naik ke lantai II rumahnya, untuk menunaikan salat isya dan berdoa buat mendiang pemimpin perempuan yang amat dikaguminya itu.

Asrori S. Karni
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 8 Beredar Kamis, 3 Januari 2008]

Selasa, 08 Januari 2008

Sistem Komputerisasi Memberatkan TKI

JAKARTA (Berita Nasional) : Sistem komputerisasi terpadu Tenaga Kerja ke Luar Negeri (SISKOTKLN) dalam operasionalisasinya ternyata sangat memberatkan TKI. SISKOTKLN juga tidak sesuai dengan UU Nomor 39 Tahun 2004, tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja ke Luar Negeri yang efisien, murah, mudah dan cepat serta Inpres 6/2006 tentang Reformasi Sistem.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Perhimpunan Rakyat Nusantara (PRN) Umar Ali MS kepada pers di Jakarta, Sabtu (5/1). Menurut Umar, PRN adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang konsen memperhatikan permasalahan para TKI.

Umar menjelaskan, SISKOTKLN dibentuk Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (saat itu dipimpin Jacob Nuwawea) dengan surat keputusan Nomor. KEP.211A MEN/2003. Menakertrans (saat itu) menunjuk secara langsung PT Anugrah Karya Utama Persada (AKUP) untuk membangun, mengelola dan mengoperasionalkan SISKOTKLN.
Anehnya, Surat Edaran Dirjen PPTKLN Denakertrans Nomor B 1837/DP2TKLN/ VI/ 2004 menjelaskan, tidak ada pungutan administrasi untuk penerapan SISKOTKLN. Selanjutnya dalam Surat Perjanjian kerja sama Nomor. 2821/PPTKLN/I/ 2003, mengenai operasionalisasi SISKOTKLN, tidak tercantum satu pasal pun perintah untuk melakukan pungutan kepada seluruh stakeholder terkait pelayanan, penempatan dan
perlindungan TKI.

Umar berpendapat, SISKOTKLN yang kini operasionalisasinya menjadi otoritas Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), sangat membebani TKI.. Sebab sistem ini hanya memanjangkan birokrasi. Padahal kontribusi TKI kepada pemerintah cukup besar melalui dua pos penerimaan yakni devisa dan dana
pembinaan sebesar 15 dólar AS yang sudah berjalan 25 Tahun.

PT AKUP yang efektif mengelola SISKOTKLN sejak 6 September 2004 secara sepihak telah mengutip dana dari Balai Latihan Kerja (BLK) Sarana Kesehatan (Sarkes), Lembaga Uji Kterampilan (LUK), perusahaan asuransi, dan PJTKI yang pada akhirnya bermuara sebagai beban tambahan TKI. Dana itu dipungut sebagai biaya operasional jaringan online komputerisasi data TKI.

PT AKUP secara sepihak memblokir/tidak menyerahkan kepada pemerintah
setiap data TKI yang masuk SISKOTKLN dari stakeholder yang belum/tidak membayar. Hal ini berdampak pada terhentinya proses TKI karena pemerintah tidak bisa mengeluarkan rekomendasi proses lanjutan. Di mata Umar, ini berarti, pemerintah dan PT AKUP menghambat proses penempatan TKI.

Umar menilai, sejak diefektifkan 6 September 2004, PT AKUP telah menerima pungutan sekitar Rp17 miliar. Rinciannya, dari BLK, LUK dan PAP sebesar Rp. 13.500,- per TKI x 25.000 TKI per bulan X 40 bulan operasional mencapai Rp. 13.500.000.000,-. Sementara pungutan yang diterima dari Sarkes sebesar Rp. 7000,- per TKI X 25.000 TKI per bulan X 20 bulan mencapai Rp. 3.500.000.000. Ini belum termasuk pembayaran dari stakeholder yang baru masuk dibawah BNP2TK, seperti asuransi.
Pada akhir keterangannya, Umar meminta Presiden mempelajari dan mengkaji kembali keberadaan SISKOTKLN yang jadi wadah untuk melakukan "pungutan liar" pada para TKI. (rilis)

Sabtu, 05 Januari 2008

PERNYATAAN SIKAP

Salam Kemerdekaan Pers!
Lembaran baru tahun 2008 dinodai tindak kekerasan terhadap jurnalis. Seorang jurnalis Sumut Pos, Yusrizal, menjadi korban pemukulan oleh setidaknya 5 ( lima ) petugas keamanan kediaman Walikota Medan, Abdillah.

Pemukulan atas Yusrizal di kediaman Abdillah, Jalan Perak, terjadi Rabu, 2 Januari 2008, sekira pukul 21.00 WIB, sesaat setelah Yusrizal mengambil gambar kediaman Abdillah. Yusrizal dipukuli di depan istrinya.

Saat bersamaan pula, jurnalis Sindo, Rinaldi, diperlakukan kasar oleh petugas yang sama (dicekik dan dimaki-maki) .

Yusrizal ditugaskan redaksi kantornya untuk memotret suasana kediaman pribadi Abdillah, pasca ditahannya Abdillah oleh KPK di Jakarta dalam kasus korupsi.
Atas permintaan itu, Yusrizal kemudian datang ke kediaman Abdillah.

Namun saat memotret, dia didatangi petugas keamanan rumah Abdillah dan kemudian kameranya diambil, kemudian dipukuli.

Yusrizal saat ini terbaring lemah di Rumah Sakit Methodist di Jl Thamrin Medan . Dia terpaksa menjalani opname dan kondisinya saat ini masih lemah. Menurut dokter, Yusrizal mengalami penyempitan saluran pernafasan karena penganiayaan
itu,

Tindakan kekerasan terhadap jurnalis adalah cara-cara premanisme yang merupakan tindakan pidana dan pelanggaran hukum, sebab jurnalis dalam kegiatan jurnalisnya dilindungi UU.

Karena itu, AJI Medan menyatakan sikap:

1. MENGECAM KERAS aksi pemukulan yang dilakukan 5 (lima ) pengawal Walikota Medan Abdillah atas jurnalis Sumut Pos, Yusrizal dan perlakuan kasar atas jurnalis Sindo, Rinaldi.

2. MEMINTA POLTABES MEDAN serius menangani aksi kekerasan itu, dan memandangnya sebagai upaya penghalangan kerja jurnalistik sebagai mana diatur
dalam UU no.40 tahun 99 tentang Pers pada Pasal 18 ayat 1: "Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat
atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000, 00 (lima ratus juta rupiah)."

3. MENGHIMBAU masyarakat untuk memahami kerja jurnalistik yang sejatinya merupakan perwujudan dari pemenuhan hak masyarakat untuk memperoleh informasi.
Bila jurnalis dihalang-halangi, hal itu berarti menghalangi pula hak masyarakat untuk mendapatkan informasi.

Kami juga akan mendukung sepenuhnya Harian Sumut Pos untuk melaporkan hal tersebut ke polisi agar kejadian serupa tidak terulang lagi pada media massa
cetak maupun elektronik di Sumatera Utara.

Demikian Pernyataan Sikap ini kami buat demi tegaknya kebebasan pers dalam mengungkap kebenaran.


Medan, 3 Januari 2008

Onny Kresnawan
Koord. Divisi Advokasi AJI Medan



Tembusan:
1. Kapolda Sumut
2. Gubernur Sumut
3. Kapoltabes Medan
4. AJI Indonesia
5. Dewan Pers
6. Media Pers
7.Organisasi Jurnalis (PWI, IJTI, PWI – Reformasi,
KOWRI, MPC)

Jumat, 04 Januari 2008

Harga Minyak di atas 100 Dolar AS

NEW YORK (Berita Nasional/ANTARA News) - Harga minyak berjangka naik ke rekor baru 100,05 dolar AS per barel, Kamis, setelah pemerintah AS melaporkan penurunan cadangan minyak mentah yang lebih besar dari perkiraan dan kenaikan tak terduga pasokan minyak pemanas.

Satu hari setelah harga minyak menyentuh 100 dolar AS untuk pertama kalinya, departemen energi AS mengatakan cadangan minyak mentahnya turun 4 juta barel pekan lalu, lebih banyak dari perkiraan para analis turun 1,7 juta barel.

Di sisi lain, cadangan minyak sulingan (destilasi) yang termasuk minyak pemanas dan bahan bakar disel naik 600.000 barel, berlawanan dengan perkiraan para analis bahwa pasokan minyak hasil destilasi akan turun 600.000 barel. Dan pasokan bensin naik 1,9 juta barel, lebih banyak dari perkiraan para analis naik 1,3 juta barel.

Harga berfluktuasi setelah laporan cadangan minyak AS karena para investor berupaya menginterpretasikan data, namun pada Kamis pagi harga minyak menguat dan membentuk rekor baru.

Harga minyak mentah jenis light, sweet untuk pengiriman Februari naik 24 sen menjadi 99,86 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange setelah naik ke posisi tertinggi 100,05 dolar AS.

Meski harga minyak naik, mereka mengangap harga akan terkendali oleh keyakinan bahwa OPEC dalam pertemuannya bulan depan akan memutuskan untuk meningkatkan produksi.
Para pejabat Indonesia berencana meminta Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak itu untuk meningkatkan produksinya guna menurunkan harga minyak, lapor Dow Jones.(*)

Musharraf Bantah Agen Pakistan Terlibat Bunuh Benazir

ISLAMABAD (Berita Nasional/ANTARA News) - Presiden Pervez Musharraf hari Kamis menolak anggapan-anggapan bahwa badan keamanan Pakistan mendalangi pembunuhan Benazir Bhutto dan mengatakan, pemimpin oposisi itu telah diperingatkan mengenai ancaman-ancaman terhadap dirinya dari kelompok muslim garis keras.

Musharraf mengatakan kepada wartawan, pihak berwenang tidak bertanggung jawab atas bobolnya keamanan yang mengarah pada pembunuhan mantan perdana menteri tersebut dalam serangan penembakan dan bom bunuh diri di Rawalpindi pada 27 Desember.

"Dalam tiga bulan terakhir, terjadi 19 serangan bom bunuh diri, sebagian besar ditujukan pada militer, pada intelijen," katanya dikutip Reuters.

"Jika militer dan intelijen yang sama menggunakan orang yang sama untuk menyerang mereka, maka itu menggelikan," katanya.

Musharraf mengatakan, seorang militan yang terkait dengan Al-Qaeda yang ditempatkan di perbatasan Afghanistan, Baitullah Mehsud, mendalangi sebagian besar serangan bom bunuh diri akhir-akhir ini serta serangan terhadap Benazir. Pemmpin oposisi itu telah menyampaikan pernyataan mengenai pentingnya menangani militansi.

Banyak orang Pakistan meyakini bahwa musuh-musuh lain Benazir, mungkin di badan-badan keamanan, terlibat dalam serangan tersebut.

"Saya pikir tidak ada badan intelijen di Pakistan yang bisa mengindoktrinasi seseorang untuk meledakkan dirinya," kata Musharraf.

Pembunuhanb Benazir, seorang saingan lama Musharraf, dan kekerasan yang terjadi kemudian telah meningkatkan keraguan mengenai stabilitas dan peralihan menuju pemerintahan demokratis di Pakistan, negara bersenjatakan nuklir yang menjadi sekutu penting AS dalam perang melawan terorisme.

Pemimpin-pemimpin oposisi telah mendesak Musharraf agar meletakkan jabatan, dan para pengecam menyatakan bahwa presiden tersebut telah menjadi sumber ketidakstabilan.

Musharraf mengatakan, Benazir telah mengabaikan peringatan mengenai bahaya mengadakan pawai di lapangan Rawalpindi.

"Ya, ia sungguh-sungguh telah diberi tahu mengenai ancaman itu," katanya.

"Kami tahu, badan-badan intelijen tahu, ada sebuah ancaman dan kami telah memberi tahu dia agar tidak pergi dan mencegahnya pergi," katanya, menunjuk pada sebuah insiden pada November ketika pihak berwenang melakukan penahanan rumah sesaat terhadap Benazir untuk mencegahnya menghadiri pawai di lapangan itu.

"Kali ini lagi, ia memutuskan untuk pergi dan ia pergi... Ia pergi atas kemauannya sendiri dengan mengabaikan ancaman tersebut," tambahnya.

Musharraf mengatakan, pengamanan sangat ketat di lapangan itu, dengan lebih dari 1.000 polisi yang bertugas dan aparat-aparat kepolisian yang ditempatkan di atap, serta pasukan mobil di sekitar Benazir.(*)

Rusia Ancam Saudi Arabia Sebagai Produsen Minyak Utama

PARIS (Berita Nasional/ANTARA News) - Arab Saudi masih merupakan produsen minyak mentah terkemuka dunia, tetapi posisinya dalam produksi telah ditantang oleh Rusia.

Sementara Amerika Serikat tetap merupakan konsumen minyak utama. Negara-negara produsen dan konsumen terkemuka pada 2006, seperti yang ditetapkan oleh Badan Energi Ianternasional (IEA) di mana Arab Saudi masih di peringkat utama yakni memproduksi 10,72 juta barel per hari sementara Rusia 9,67 juta barel per hari.

Amerika Serikat produksinya mencapai 8,36 juta barel per hari, Iran 4,15 juta barel , China 3,84 juta barel dan Meksiko 3,71 juta barel per hari.

Negara produsen lainnya yakni Kanada tercatat 3,29 juta barel, Uni Emirat Arab 2,94 juta barel, venezuela 2,80 juta barel dan Norwegia 2,78 juta barel per hari.

Sementara Kuwait, Nigeria dan Brazil masing-masing memproduksi 2,67 juta barel, 2,44 juta barel dan 2,16 juta barel per hari. Sedangkan Aljazair dan Irak masing-masing 2,12 juta dan 2,0 juta barel per hari.

Untuk negara-negara konsumen, Amerika Serikat masih di urutan pertama sebagai konsumen terbesar minyak mentah dunia dengan angka 20,59 juta barel per hari. Posisi berikutnya adalah China dengan 7,27 juta barel per hari (bpd), Jepang 5,22 juta bpd, Rusia 3,10 juta dan Jerman 2,63 juta bpd.

Konsumen terbesar berikutnya adalah India, Kanada, Brazil dan Korea Selatan masing-masing 2,53 juta bpd, 2,22 juta barel, 2,18 juta barel dan 2,16 juta bpd.

Sementara Arab Saudi mengkonsumsi 2,07 juta bpd, Meksiko 2,03 juta barel, Perancis 1,97 juta barel, Inggris 1,82 juta barel, Italia 1,71 juta barel dan Iran 1,63 juta bpd. (*)

Awasi Kinerja Anggota Kabinet Asal Parpol Pada 2008

JAKARTA (Berita Nasional): Sejumlah anggota kabinet berasal dari partai politik. Kinerja mereka menjelang Pemilu 2009 harus diawasi. Alasannya, agar mereka tidak menomorduakan tugas pemerintahan dan mendahulukan kepentingan partai.

"Publik harus mengawasi kinerja mereka agar tidak menomorduakan tugas-tugas pemerintahan dan mendahulukan tugas-tugas partai menjelang Pemilu 2009," Ketua FPKS Mahfudz Shiddiq kepada detikcom, Jumat (4/1/2007).

Mahfudz menjelaskan, pengawasan dilakukan agar jangan sampai program-program pemerintah disalahgunakan untuk kepentingan konsolidasi partai.
Mahfudz menegaskan, menteri-menteri PKS seperti Menteri Pertanian Anton Apriantono, Menneg Pemuda dan Olah Raga Adhyaksa Dault, dan Menneg Perumahan Rakyat M Yusuf Asyar'i bukanlah pejabat struktural di partai. "Dan mereka harus konsentrasi penuh di kabinet," ujar Mahfudz. (detik.com)

Rabu, 02 Januari 2008

Mailing List ala PKI

WARTAWAN atau siapapun yang gemar menulis melalui media cetak atau elektorik adalah orang-orang yang dituntut bersedia mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya. Sekalipun risikonya ditembak mati oleh pihak yang diberitakan. Tuntuntan ini juga berlaku bagi semua manusia. Sebab, keberanian menerima risiko merupakan ajaran abadi yang diturunkan dari langit. Manusia barulah dapat disebut manusia bila berani atau bersedia menghadapi risiko untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Itulah sebabnya lembaga pers atau organisasi pers harus tampil terang-terangan. Saat ini pers Indonesia memiliki Undang-Undang No. 40 tahun 1999 Tentang Pers, yang memberi perlindungan sekaligus menyediakan ancaman hukum kepada pers. Pasal 12 Bab IV menyebutkan ”Perusahaan pers wajib mengumumkan nama, alamat dan penanggung jawab secara terbuka melalui media yang bersangkutan; khusus untuk penerbitan pers ditambah nama dan alamat percetakan.” Kompas, Tempo, Forum Keadilan, Detik. Com, Hukumonline.com, SCTV dan RCTI adalah contoh perusahaan pers yang memenuhi ketentuan tersebut.

Organisasi wartawan seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), atau Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi (PWIR) juga harus berbadan hukum. Jelas alamat kantornya, jelas pula susunan pengurusnya. Orang-orang di dalamnya diikat oleh Kode Etik Jurnalistik atau Kode Etik Wartawan Indonesia. Dewan Pers sudah tentu sah dan jelas keberadaannya.

Dengan demikian, apabila ada pihak lain – terutama sumber berita – merasa keberatan atas tulisan atau perbuatan wartawan, mereka dapat mengajukan protes, somasi, atau bahkan gugatan ke alamat yang jelas. Wartawan yang tak puas pada Dewan Pers pun dapat mengajukan keberatan atau melakukan protes ke alamat yang jelas.

Tetapi yang terpenting dari ketentuan di atas adalah untuk menunjukkan bahwa komunitas perusahaan atau organisasi pers, bukanlah kaum pengecut. Mereka harus berani menghadapi risiko hukum atau risiko diprotes atas apa yang mereka lakukan.

Bagaimana dengan mailing list di dunia maya buatan komunitas wartawan atau bekas wartawan? Dalam Undang-Undang Tentang Pers, mailing list memang tidak disebut. Oleh karena itu tidak masuk dalam kategori lembaga pers. Lagi pula memang sulit mengikat kegiatan di dunia maya. Anggota komunitas bisa berada di mana saja dan menggunakan nama apa saja.

Namun, pada umumnya komunitas mailing list kalangan wartawan tetap menunjukkan identitas organisasi yang memayunginya. Umpamanya mailing list AJI atau PWI Reformasi. Dengan demikian bila pihak di luar komunitas merasa keberatan atas gunjingan atau pemberitaan di mailing list, mereka dapat menggugat atau menuntut pengurus AJI atau PWI Reformasi. Barangkali itu sebabnya, moderator atau pengelola mailing list di bawah payung organisasi, tetap terkesan berhati-hati dalam memuat kiriman tulisan.

Anak-anak sekolah, mahasiswa, atau komunitas pegawai sebuah kantor, juga banyak yang punya mailing list. Namun mereka tetap menunjukkan identitas lembaga sekolah, kampus, atau kantor. Bila ada pihak lain yang ditulis dan tidak senang atas tulisan tersebut, mereka dapat mengajukan keberatan pada lembaga yang memayungi komunitas itu.

Tapi ada mailing list yang tidak jelas alamat kantornya, tidak jelas organisasi yang memayunginya, sosok pengelolanya pun remang-remang. Misalnya maliling list Mediacare yang konon dimoderatori oleh seorang mantan wartawan be rnama Radityo Djajuri. Nama ini bisa samaran, bisa pula nama sebenarnya. Karena serba tidak jelas, Mediacare adalah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) – meminjam istilah yang dipakai dalam gerakan provokasi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sejumlah tulisan peserta mailing list ini juga bersifat provokatif, kompor-kompor, kipas sana kipas sini, atau minta-minta dukungan untuk menghadapi pihak lain di luar komunitas Mediacare. Sasarannya bisa pejabat, tokoh masyarakat, pengusaha, wartawan, polisi, tentara, atau siapa saja. Misalnya kiriman tulisan dari alamat email --- Budi Sucahyo< budi_sucahyo@...wrote dan Irawan Santoso< irawan_fh@....>

Dapat dipastikan, pemilik email tersebut tak berani berhadapan sendiri secara langsung dengan pihak yang ditulis, sama seperti moderator mailing list. Dengan demikian provokasi dan metode kepengecutan diperbolehkan oleh Mediacare. Isi tulisannya boleh dipercaya, boleh tidak, boleh disimak, boleh juga tidak.
Karena organisasinya tanpa bentuk, alamat dan pengelolanya tak jelas, serta bebas memprovokasi, maka mailing list macam ini bisa disebut apa saja. Misalnya, mailing list tuyul, kompor-kompor, kolor ijo, mailing list ala PKI, atau mailing list maling teriak maling. Bisa juga disebut mailing list orang stress, karena barangkali mereka tidak lagi bekerja di perusahaan pers resmi. Kalaupun suatu hari diterima bekerja di perusahaan pers, kaum seperti ini berpotensi menjadi provokator gelap yang gemar lempar batu sembunyi tangan.(Priyono B. Sumbogo/Forum)

Korban Tewas Banjir dan Longsor di Ngawi 25 Orang

NGAWI (Berita Nasional/ANTARA News) - Korban meninggal dunia akibat banjir serta tanah longsor di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, hingga Rabu tercatat 25 orang, dan diperkirakan masih bisa bertambah karena upaya pencarian korban lain dan pendataan masih berlangsung.

Dari 25 korban tewas itu, 20 diantaranya adalah korban banjir di Kecamatan Ngawi, Kwadungan, Geneng, Padas, dan Pitu, sedangkan lima lainnya merupakan korban tanah longsor di Kecamatan Sine dan Mantingan.

Di Kecamatan Ngawi banjir telah merenggut empat jiwa manusia, di Kwadungan menewaskan 11 orang, di Geneng Tiga orang, serta di Padas dan Pitu korban tewas masing-masing satu orang.

Sementara bencana tanah longsor di Kecamatan Sine telah menewaskan empat orang dan Kecamatan Mantingan satu orang.

Koordinator Satuan Koordinasi dan Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana Alam (PBA) Kabupaten Ngawi, Muhammad Sodik Tri, mengatakan, dua korban meninggal terakhir berasal dari Desa Tambakboyo, Kecamatan Mantingan, bernama Agus Purnomo (11) dan Ratno Santoso (52), warga Dusun Putat, Desa Kendung, Kecamatan Kwadungan.

"Kedua korban tersebut adalah korban longsor yang terjadi di Desa Tambakboyo beberapa hari lalu, dan satu korban lagi korban banjir," katanya mengungkapkan.

Menurut dia, laporan adanya korban tewas akibat tanah longsor di Tambakboyo itu ia terima pada Selasa (1/1) kemarin. Dia mengaku belum tahu persis bagaimana musibah tanah longsor itu terjadi.

Dari laporan yang diterima, kata dia, tanah longsor itu terjadi setelah malam sebelumnya terjadi hujan deras di Desa Tambakboyo.

Sedangkan, korban tewas akibat bencana banjir baru-baru ini dilaporkan tewas setelah sakit, akibat terendam banjir beberapa hari di desanya.

Dari jumlah korban meninggal tersebut, kata dia, kebanyakan rata-rata adalah warga yang telah berusia lanjut usia.

"Selain meninggal karena sakit, para korban tersebut meninggal akibat terjebak banjir yang menggenangi rumahnya," katanya menjelaskan.

Data korban meninggal tersebut, baru data sementara dan tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan bertambah lagi. Pasalnya, hingga saat ini masih terus dilakukan pencarian dan pendataan para korban banjir, demikian M Sodik.(*)

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Foto-Foto