Kamis, 26 Juni 2008

Kesaksian Korban Tragedi Monas

Oleh Imdadun Rahmat
(Aktivis NU, wakil sekretaris ICRP dan Direktur Yayasan PARAS)
Saya datang di sudut tenggara Monas pada jam 12.30. Rombongan yang hadir bersama saya adalah para Relawan PARAS sebanyak 14 orang (2 perempuan 12 laki-laki) plus 2 orang anak saya (Rausyan, 11 th. dan Satya 8 th.) dan Khamami Zada (LAKPESDAM NU) yang membawa anaknya, Aria 4 th.
Kami datang dengan suasana hati gembira dan penuh semangat karena kami akan bersama-sama tokoh-tokoh nasional merayakan hari lahir Pancasila dan menyerukan penghargaan pada kebhinekaan.
Saya datang sebagai anggota panitia sekaligus sebagai koordinator relawan PARAS yang mendapatkan tugas dari Aliansi untuk mengisi persembahan musik perdamaian yang akan ditampilkan di sela-sela pidato para tokoh dan sebelum acara dimulai (menunggu peserta hadir semua).
Kami datang dengan 3 mobil. Semula, mobil-mobil kami parkir di sudut tenggara Monas sambil menunggu peserta lain yang belum datang.
Ketika kami menunggu, kami bertemu dengan para peserta lain di antaranya sekitar 20 orang dari LAKPESDAM NU Society.
Setelah sebagian peserta telah masuk area Monas, maka kami putuskan untuk menuju ke sana. Karena ingin cepat-cepat sampai untuk segera tampil, maka tiga mobil kami bawa masuk ke Monas, dan kami parkir tak jauh dari mobil Sound System. Maka saya bersama tim musik segera menurunkan peralatan-peralatan musik dan satu set mini amply dan kemudian mensetnya serta menghubungkannya dengan soun sistem utama yang dimuat di atas truk.
Ketika kami sedang mencek suara gitar, bas, dan mikrofon, korlap saat itu Saudara Saidiman mempersilahkan para peserta untuk merapat ke sound komando dan meminta mereka untuk duduk.
Para peserta yang sebagian besar kaum perempuan itupun duduk. Ada sebagian yang masih berjalan merapat, dan tiba-tiba ada suara gaduh, "FPI datang". Saidiman meminta kepada para hadirin untuk tenang dan jangan terprofokasi.
Pada saat itu, rombongan sekitar 200 an orang FPI semakin mendekat. Suasana makin tidak tenang, karena FPI meneriakkan suara-suara bernada ancaman.
Tak lama kemudian pasukan FPI dengan pentungan bambu mengepung dan melontarkan sumpah serapah "Ahmadiyah kafir", "hancurkan", "habisin" dan sebagainya.
Sementara anggota FPI lain memukuli peserta serta kaum ibu, salah seorang dari mereka mulai membanting bongo dan alat percusi milik kami.
Saya menghanginya dengan mengatakan "jangan begitu, jangan pakai kekerasan". Dengan kasar dia menghardik "kamu Ahmadiyah" saya bilang "saya orang NU". Ia bilang "NU apa, kamu kafir". Orang itu lalu memukul kepala saya dengan tongkatnya, saya berhasil menangkisnya, dan terus memukul saya, saya bisa mempertahankan diri.
Saya sempat melihat teman saya dari PARAS (Mansur) mencoba melawan FPI yang memukulinya, saya tahan dia untuk tidak melawan. Saat itu, saya pikir kami tidak mungkin melawan, karena kedua anak saya ada di dekat saya, dan saya hawatir jika melawan korban akan semakin banyak, karena sebagian besar dari kami adalah ibu-ibu. Buru-buru saya teriak ke keponakan saya (Ninik, relawan PARAS) untuk membawa pergi anak-anak saya.
Selanjutnya saya dikeroyok ramai-ramai, tidak hanya dengan bambu tetapi juga dengan besi (alat musik milik kami, High Head) saya hanya bisa menangkis yang dari depan, sementara yang dari belakang dan dari samping tak bisa dibendung. Saya terus dikeroyok.
Saat itu saya merasakan sakit yang luar biasa di beberapa bagian dari kepala saya. Saya merasa menghadapi kematian. Saya bergumam Allahu Akbar berkali-kali. Para penyerang saya juga berteriak "kafir", "bunuh", "Allahu Akbar".
Pada saat genting demikian, naluri saya mengatakan harus lari. Saya kemudian lari, dan terus dipukuli oleh anggota FPI yang lain. Saya tersandung dan jatuh, pada saat itu saya merasakan pelipis kiri saya ditendang dan kepala bagian belakang saya dipukul dengan pentungan. Saya bangkit dan terus berlari, saya dikejar, saya berhasil menjauh dari kerumunan FPI. Saya merasa kepala saya sakit semua.
Semula saya belum sadar kalo saya luka-luka. Mula-mula leher saya terasa dingin, ternyata darah saya mengalir deras dari bagian belakang kepala saya. Kaos saya basah oleh darah. Lalu saya merasa pelipis saya perih, yang teranyata mengeluarkan darah. Namun kemudian saya merasa lega ternyata saya ketemu dengan ponakan dan 2 anak saya yang menangis ketakutan di pinggir sebelah timur Monas.
Saya juga ketemu Hamami dan Sahal (LAKPESDAM NU) beserta teman-temannya. Saya peluk anak-anak saya dan darah saya dibersihkan oleh keponakan saya. Kaos PARAS yang saya pakai penuh darah dan saya lepas agar tidak ditandai dan diserang lagi oleh FPI.
Kemudian saya beristirahat di pinggir Monas, karena kepala saya mulai pusing-pusing. Saya tidak mungkin terus ke rumah sakit karena saya masih meninggalkan tanggung jawab di sana. Saya belum tahu bagaimana nasip teman-teman saya, khususnya teman-teman relawan pemusik, yang menjadi sasaran penyerangan pertama dari FPI.
Tiga mobil kami yang masih terparkir di tempat penyerangan juga masih di sana. Sebab, setelah menurunkan relawan musik berikut alat-alat musiknya, kami belum sempat memindahkannya di tempat parkir stasiun Gambir, seperti yang kami rencanakan.
Alat-alat musik kami juga masih ada di sana, dan kami belum tahu nasip alat-alat kami seperti apa. Saya dihantui ketakutan jika mobil-mobil kami turut dirusak atau dibakar.
Dalam kekalutan itu, saya telephon Masdar Mas'udi, mengabarkan apa yang menimpa kami. Dia tak percaya, heran dan marah. Dia meminta saya tabah dan segera ke rumah sakit. Saya merasa didoakan oleh kiai NU. Saya merasa lebih tenang. Saya segera teringat beliau karena sehari sebelumnya, saya diundang oleh beliau di PBNU untuk mempresentasikan buku saya tentang Islam Radikal pada acara konsolidasi imam dan khotib NU dalam mengantisipasi "direbutnya" mesjid dan musholla NU oleh kalangan Islam radikal.
Saya terus kontak teman-teman saya untuk mencari tahu apa yang menimpa mereka. Ternyata banyak korban luka-luka. Saya ketemu Mas Suaedy yang dagunya bengkak dan berdarah, saya ketemu Pak Syafii Anwar yang kepalanya memar-memar, dan saya sangat marah dan sedih ketika mendengar Guntur terluka parah, juga Kiai Maman Ainul Haq.
Kalau seandainya Gus Dur, Gus Mus, Amin Rais, Buya Syafi'i Ma'arif telah hadir di sana mungkin beliau-beliau akan menjadi korban pula. Ketika pusing kepala saya makin parah, saya putuskan untuk segera ke rumah sakit. Saya khawatir saya kehilangan banyak darah. Saya kesampingkan semua urusan mobil dan peralatan musik. Yang penting saya selamat.
Anak saya yang kecil saya titipkan ke teman-teman PARAS, saya bersama anak pertama saya menuju Gedung Kebudayaan seperti disarankan teman-teman, untuk mendapatkan penanganan medis. Dari situ kami diantar Ibu Amanda menuju rumah sakit Bakti Waluyo, Menteng.
Luka di kepala saya dijahit, luka-luka di dahi saya diobati dan diperban, memar-memar di kepala saya diolesi krim anti bengkak. Dan saya disuntik dan minum obat.
Alhamdulillah, teman-teman PARAS tidak ada yang terluka serius. Mansur luka memar di beberapa bagian kepalanya, dan rusuknya sakit, karena dikeroyok. Edy kepalanya memar kena pentungan. Ais kepalanya memar-memar dan punggungnya bengkak. Amo tangannya berdarah kena kawat berduri waktu lari dikejar FPI. Dila kakinya bengkak karena keseleo ketika menyelamatkan diri.
Mobil saya, mobil PARAS dan mobil relawan PARAS (dr. Elvy), tidak mengalami kerusakan apa-apa. Tiga gitar dan satu bass bisa diselamatkan (dibawa lari oleh personil musik). Yang membuat saya gusar, tiga amplyfier rusak (mudah-mudahan bisa diservis), dan satu hilang. Alat-alat percusi saya rusak parah (gak bisa dipake lagi), hard cover gitar rusak parah dan sound effek hilang. Kabel-kabel juga raib entah kemana. Mungkin FPI juga doyan kabel. Total kerugian peralatan musik sekitar 9 juta.
Yang meresahkan saya hingga hari ini adalah kondisi psikologis anak saya. Semoga ia tidak mengalami phobia atau bahkan trauma, naudzubillah min dzalik. Mereka berdua akan menjalani terapi psikologis setelah selesai ujian semesteran. Ahh.., memang kebangetan FPI.
Bagi saya kejadian ini merupakan bukti bahwa di negeri kita tidak ada jaminan bagi kebebasan berfikir, berpendapat dan berkeyakinan. Bayangkan, di siang bolong, di pusat Ibu Kota negara, di hari yang sakral (hari lahirnya Pancasila—ideologi negara) ada sekelompok orang dengan leluasa dan sewenang-wenang menyerang dan menganiaya orang-orang yang berkumpul untuk merayakan hari lahir Pancasila.
Orang-orang yang diserang itu adalah kumpulan dari para aktivis dan tokoh penyeru kebangsaan, pro-demokrasi, pro-pluralisme dan datang dari berbagai agama dan kepercayaan. Negara ada di posisi mana sih? Bingung gue...Selain itu, peristiwa ini membuktikan bahwa keberagamaan kita ada dalam masalah besar.
Bagaimana ada sekelompok orang dengan nama Islam, berbaju taqwa, meneriakkan kalam suci Allahu Akbar dengan beringas menganiaya orang-orang yang tidak melawan, tidak berdaya dan tidak bersalah, hanya karena dianggap berbeda dengan mereka.
Dan yang memprihatinkan, ada banyak orang yang mendukung dan membenarkan penyerangan itu. Kata teman saya "jangankan penyerangan, penganiayaan, pengeboman yang membunuh ratusan orang tak berdosa juga mereka benarkan kok"..
Memang benar sih, sebagian besar kalangan yang mendukung penyerangan adalah pula orang-orang yang mendukung terorisme selama ini.. Yah mau bagaimana lagi, yang radikal-radikal dipiara... Pengalaman ini adalah pengalaman batin, bahwa Islam yang benar adalah Islam yang rahmatan lil 'alamin.
Saya hanya beriman kepada Islam yang hanif, yang tawassuth, yang damai, yang tidak membenci. Semakin jelas bukti di mata saya bahwa yang dicontohkan para guru saya di pesantren adalah Islam yang benar.
Amar ma'ruf nahi munkar yang dilakukan para kiai saya adalah perjuangan membimbing ummat, mengajari mereka siang malam untuk menjadi muslim yang soleh, bertaqwa dan kuat iman. Mereka bekerja secara tulus, ikhlas, tanpa mengharap bayaran. "Benteng keimanan adalah nomor satu" kata mereka. Itu pula yang dicontohkan ibu dan keluargaku.
Semangat membela Islam tidak didasari oleh kebencian kepada orang lain. Apalagi membela Islam dengan menjadi preman... Naudzubillah min dzalik...

Senin, 23 Juni 2008

PEKA

PEKA alias mudah merasa; mudah terangsang. Kata PEKA bisa juga diartikan sebagai suatu perasaan mudah ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Ketika orang lain sedih, kita ikut merasa sedih. Orang gembira, kita bisa merasakan kegembiraan itu.

Sedangkan Kepekaan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Terbitan Balai Pustaka berarti kesanggupan bereaksi terhadap suatu keadaan.

Bicara masalah kepekaan atau sensitifitas ternyata sudah luntur di kalangan masyarakat kita. Rasa peduli orang-orang kaya terhadap orang miskin sangat tipis. Egoisme dan memeningkan diri sendiri justru yang menonjol. Jika melihat ada orang lain kesusahan di depan mata itu hanya dianggap sebagai pemandangan biasa saja. Perasaannya tidak tersentuh sedikit pun untuk ikut membantu meringankan apalagi memberi solusi.

Hal itu dapat kita simak dari berita kompas baru-baru ini, seperti yang tertulis dibawah ini:
Orang miskin berebut barang kebutuhan pokok merupakan pemandanganmakin biasa di negeri ini. Akan tetapi, melihat orang kaya berebutbantal adalah pemandangan langka. Itulah yang terjadi di tokoDebenhams, Senayan City, Jakarta, sejak Kamis (19/6) malam hinggaMinggu (22/6).

Bantal yang diperebutkan tentu bukan sembarang bantal. Bantal-bantalitu punya keistimewaan, empuk dan nyaman bagi kepala. Tentu saja itubarang impor bermerek terkenal dari Florence sampai King Koil.

Menurut seorang staf penjualan Debenhams yang sabar melayanipertanyaan dan permintaan pembeli, harga normal bantal warna putihtulang itu mencapai Rp 700.000 per buah. Dalam Pesta Diskon TengahMalam Senayan City pada 19-22 Juni, bantal itu dijual sekitar Rp350.000 per buah.

Bantal Lorence yang empuk dan bisa dicuci di mesin cuci harganormalnya Rp 300.000-an per buah, tengah malam itu didiskon jadi Rp69.000. Kehebohan selalu terjadi saat staf toko mengeluarkan sekarung bantal.

Pembeli, baik lelaki, perempuan, maupun anak-anak, berebut danmenarik bantal dari karung. "King Koil gitu loh bo...," kata seorangpembeli.

Mereka tak hanya membeli dua bantal, tetapi banyak yang memborongsampai enam bantal. "Mas, jam berapa bantalnya datang lagi. Buruandong," tanya seorang gadis cilik kepada seorang staf toko Debenhams.

Pembeli tak hanya menyerbu bantal atau seprai, tetapi juga kemeja dankaus lelaki. Baju perempuan, tas, dan sepatu penuh pembeli.

Gerai tasmerek Bonia ikut mendapat rezeki sekalipun tak memiliki banyak jenisbarang yang didiskon. Pesta Diskon Tengah Malam itu benar-benar menyedot pembelanja.

Sabtu(21/6) malam menjadi puncaknya. Jalan Asia Afrika mulai Hotel Muliahingga depan Plaza Senayan macet. Untuk mencapai Senayan City dariAsia Afrika butuh waktu sejam.

Di Senayan City, sejak Sabtu pukul 21.00 (saat pesta diskon dimulaihingga pukul 24.00), seluruh tempat parkir di dalam area penuh. Calonpembelanja harus parkir di tempat lain, misalnya Senayan Trade Centerdi seberang Senayan City, di jalanan samping pusat belanja itu, atauJalan Asia Afrika yang kemarin malam berkurang dua lajur untuk parkirmobil.

Public Relations and Tenant Communications Manager Senayan City SriAyu Ningsih menjelaskan, event yang kemarin digelar adalah bagian dariJakarta Great Sale dalam rangka ulang tahun ke-481 kota Jakarta.

Selain Debenhmas, ada beberapa tenant ikut berpartisipasi. Sebenarnya tak hanya Senayan City yang mengadakan pesta diskon hingga80 persen, pusat belanja papan atas lain seperti Mal Taman Anggrek,Mal Pondok Indah, dan Plaza Senayan juga mengadakan pesta diskon.

Rata-rata pengunjung pusat belanja tersebut naik. Pengunjung ke Mal Taman Anggrek Minggu kemarin membeludak. Pengelola harus menjadikan jalan di sisi kanan mal tempat parkir tambahan untukmotor.

Akan tetapi, kehebohan terjadi di Senayan City. Chief Operating Officer Senayan City Leigh Regan menargetkan,penjualan barang di Senayan City naik 50 persen-100 persen. Tampaknyatarget itu tak meleset jauh.

"Khusus di Debenhams terdapat kenaikanpenjualan 50-100 persen, sedangkan untuk tenant lain 20-30 persen,"kata Ayu semalam.

Nafsu belanja sebagian besar orang Indonesia memang luar biasa. Eventpesta diskon seperti ini ada baiknya juga. Minimal agar orang kayakita tak sering belanja ke Singapura yang kerap kali mengadakan pestadiskon.

Jumat, 06 Juni 2008

Adin Mati Kurang Makan

INGATAN saya melayang ke masa ke kepahitan hidup ketika pernah menetap di Pekanbaru, Riau, di penggalan 1971 -1979. Ingin sesungguhnya membawa kenangan itu ke alam kubur, tetapi ketika seorang kawan mem-forward sebuah artikel di harian Pos Kota, Rabu, 3 Juni 2008, berjudul: Penyapu Jalan Tewas Kelaparan, bayangan pernah memakan singkong dan air putih untuk sekadar bertahan hidup muncul mendadak di benak.

Syahdan, bagi banyak perantau, apalagi dalam usia kanak-kanak, kemandirian hidup mesti dilalui. Tiada lain, bersekolah dan mencari biaya makan sehari-hari, menjadi tuntutan.
Saya teringat kala itu, 1974, dengan Rp 5, bisa membeli goreng singkong yang tidak dipotong - - digoreng utuh - - dengan ukuran cukup besar. Kala itu, singkong goreng saya nikmati laksana hari ini memakan daging steak di restoran Angus, di top floor Chase Plaza, Jl. Sudirman, Jakarta Pusat.
Dengan uang Rp 25, saya bertahan tiga hari. Sepuluh rupiah hari pertama, sepuluh rupiah hari kedua. Lima rupiah hari ketiga.
Di hari ketiga, saya sudah menjadi kacung bola tenis, di lapangan tenis dekat asrama Brimob, Sukajadi, Pekanbaru. Hal hasil, baru di hari ketiga itu perut kembali terisi nasi. Dua hari sebelumnya hanya singkong dan air putih saja menari-nari bersama cacing di perut bergemerincing.
Ada petuah mengatakan, jika ingin merasakan bagaimana pahitnya hidup masyarakat kebanyakan, maka berlakulah macam kehidupan mereka sehari-hari.
Sehingga ketika membaca berita penyapu jalan yang tewas karena kurang makan, demi mepertahankan hidup, hanya meminum air putih dan singkong, bukan lagi sebuah romantisme biasa bagi saya.
Rasa, pengalaman hidup yang pernah berlalu, bukan lagi menjadi sekadar kata yang terucap.Kenyataan, empirik, yang saya lalui itulah kiranya menjadi salah satu angle tajuk-tajuk ini.
Di malam sebelum tewasnya Adin - - penyapu jalan itu - - isterinya tak sempat lagi memintakan singkong ke tetangga. Sebelum berangkat kerja, Adin hanya meminum air putih. Adin berujar kepada isterinya perutnya sedikit sakit. Ia melangkah bekerja menyapu jalan.
Di dalam tugas Adin berpulang.
Ajal memang di tangan Yang Maha Kuasa.
Namun di tahun 2008, 35 tahun setelah saya pernah merasakan makan singkong dan air putih untuk mengganjal perut itu, kini pun terjadi pada orang lain, di kota yang sejuk Bogor, Jabotabek, area yang konon lebih dari 60% uang beredar, saya menjadi betul-betul menjadi tidak habis pikir: Mengapa hal ini bisa terjadi? Selera saya seakan patah ketika duduk bersama keluarga di meja makan, yang menghidangkan makanan paling tidak mengandung empat sehat.

Saya kutipkan untuk Anda, berita di Pos Kota, Rabu, 4 Juni 2008

Penyapu Jalan Tewas Kelaparan
BOGOR (Pos Kota) - Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak seiring kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) memunculkan beragam kisah pilu. Seorang penyapu jalan tewas di pinggir jalan Sukasari, Bogor Timur, Selasa (3/6) siang.
Diduga, Adin, 46, petugas kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bogor, itu meninggal dunia karena kelaparan. Ia hanya makan satu kali sehari karena harus berbagi dengan ketiga anaknya.
Sebagaimana dituturkan Neglasari, 40, istri Adin, di RSUD PMI Bogor tempat jasad sang suami diotopsi, korban meninggal akibat menahan lapar sejak malam.
Menurut Neglasari sejak kenaikan BBM yang dibarengi dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok, ia dan suaminya kelabakan mengatur pendapatan bulanan yang hanya Rp750 ribu.
Jumlah yang sangat minim ini harus diatur sehemat mungkin agar bisa menyisihkan dana untuk biaya sekolah dua dari tiga anaknya. "Biaya hidup dengan tiga anak sangat tidak mencukupi dengan gaji hanya Rp750 ribu sebulan," kata Neglasari saat berada di ruang forensik rumah sakit.
Cuma Minum Air Putih
Warga Kampung Cibitung RT 02/07, Desa Tenjolaya, Kabupaten Bogor, ini mengaku untuk bisa bertahan hingga gajian bulan berikutnya, terkadang mereka makan sehari sekali. Bahkan jika makanan yang tersedia tidak mencukupi untuk semua, ia dan suaminya terpaksa cuma minum air putih.
"Dengan gaji suami, kami bisa bertahan hingga dua minggu lebih. Selebihnya, sudah morat-marit. Untuk bertahan agar anak-anak tidak kelaparan, kami makan sehari sekali. Kadang diselipkan dengan rebus singkong dan daunnya yang saya minta dari warga," paparnya.
Kepergian sang suami, diakui ibu tiga anak ini, akibat sejak malam tidak makan. Menu yang seharusnya untuk sang suami, terpaksa dibagikan ke tiga anaknya yang mengaku sedang lapar.
Bahkan sebelum berangkat kerja, korban sempat mengeluh sakit pada bagian perutnya.
"Saya pikir sakit biasa. Rupanya sakit itu, pertanda lapar sejak malam," ujar sang istri sambil menambahkan dirinya tidak sempat keluar minta singkong ke tetangga untuk makan suami karena waktu sudah malam. (yopi/ok)
SUARA rakyat suara Tuhan. Rakyat giat bekerja, walaupun keadaan memang tidak berpihak di tanah bernama Indonesia kini, tidak pula harus mengecilkan harap. Semoga surganya Tuhan menerima jasad Adin. Amin!
SESUAI janji siang ini saya bertemu dengan Zahara, sosok kakak seorang kawan yang puterinya baru saja menyelesaikan sekolah S2 di Jerman.
Kami akan mengunjungi Ary Suta Centre di jam makan siang Rabu ini. Sang puteri, yang juga pernah menjadi atlit menembak nasional, saya sarankan untuk membuat saja sebuah program televisi bertajuk German Talk, talk show di televisi berbahasa Jerman - - dapat menampung komunitas Jerman yang ada di Indonesia. Dukungan sponsor bisa didapat dari beberapa perusahaan Jerman yang ada di indonesia.
Zahara mengatakan bahwa sponsor awal mungkin bisa ia mintakan kepada I Gde Ary Suta, mantan kepala Badan Penyehatan Perbankan (BPPN) itu. Ary Suta kini memang memiliki lembaga think-thank, Ary Suta Centre, dan siang itu rupanya ada acara mengundang Wiranto, dari Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA), tampil sebagai pembicara tunggal dalam diskusi rutin bulanan lembaga itu.
Lokasi kantor Ary Suta Center di bilangan Prapanca III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ia menempati sebuah rumah berukuran besar, khas Kebayoran. Begitu memasuki halaman, dua buah mobil VW Caravelle Transporter diparkir. Satu berwarna putih dan sebuah lagi hitam. Yang putih di bawah tenda putih, di sampingnya ada meja yang ditempati bagian promosi kendaraan itu. Begitu masuk, sosok pria muda memberikan kartu nama, dan menawarkan untuk test drive mobil berbahan bakar diesel itu.
Menurut saya inilah cara memasarkan mobil yang unik. Untuk kalangan terbatas, di event-event terbatas berkelas.
Di sampaing rumah sudah tersedia tenda yang menaungi makanan. Ada nasi Bali, lontong cap go meh, ada es puter. Acara makan siang dilanjutkan dengan presentasi Wiranto.
Begitu masuk dua buah lukisan di dinding menyambut. Sebuah lukisan di kanan menampilkan mobil jeep dalam susana off road. Lukisan di kiri, juga susana off road, tapi mobil yang di kanvas itu: VW Safari berwarna kaki di tengah padang pasir dan lumpur.
Di bagian depan tempat Wiranto bicara. Latarnya lukisan besar panorama yang lain, seakan bertutur alam yang tandus, sehingga pigura lukisan pun beraksen tua, bintik-bintik, coklat kusam, bolong-bolong, memberikan kesan tersendiri.
Di antara hadirin, tampak Christianto Wibisono, sosok pemilik Pusat Data Bisnis, yang usai kerusuhan Mei 1998 menetap di Amerika Serikat. Ada kalangan pengusaha, kebanyakan pelaku bursa. Ada anggota DPR asal Bali, seperti Gde Sumarjaya Linggih, anggota Komisi IV. Juga ada Syirikitsyah, tokoh pers dari Surabaya. Marissa Haque, artis yang menatan anggota DPR itu tampak datang terlambat.
Tidak ada hal baru yang dipaparkan Wiranto. Ia bertutur tentang peran-peran hebatnya masa lalu. Juga soal alasannya mencalonkan diri menjadi presiden ke depan. Sempat pula terucap bahwa yang menyarankan SBY menjadi Menteri Pertambangan dan Energi ke Gus Dur dulunya Wiranto.
Tanya jawab dibuka. Sebagaimana lazim di pertemuan macam begini, orang sering syur bicara tentang “kehebatannya” di depan forum, bukan bertanya.
Bahkan seorang Christianto Wibisono pun seakan demam panggung ketika diberi kesempatan bertanya, malah menyerocos untuk membuka mata. “Dulu IMF menolong Asia di saat krisis, kini IMF justeru mengalami masalah, mengurangi tenaga kerja, apa yang kita lakukan?” tutur Christianto. Ia mengingatkan bahwa ke depan tidak bisa lagi menghujat negara asing, lembaga asing. “Kita harus membuka mata lebar-lebar di tananan global,” ujarnya seakan menasehati.
Kejadian kecil mengganggu suasana yang tak sampai di hadiri 100 orang peserta itu. Hand Phone saya kendati sudah dibuat silent, eh, ternyata belum benar-benar diam. Begitu ada telepon masuk, suaranya belum berubah dari ring tone di lagu yang di volume paling kencang pula. Hal itu mendapat tanggapan sindiran oleh Wiranto. Tidak enak betul rasanya saya. Tapi mau apa. Keringat sempat mengalir di wajah saya.
Marissa Haque yang duduk dua kursi di kiri saya diberi kesempatan bertanya. Seperti biasa ia justeru tak bertanya. Marissa bicara tentang teori sekolahnya, yang sedang mengambil S3 di IPB, Bogor.
Ingin pula saya bertanya, mengapa Wiranto tidak memberi kesempatan atau mencari sosok muda yang sesungguhnya banyak dan layak jadi pemimpin di Indonesia kini?
Sejujurnya dari paparan Wiranto, tampak sekali segalanya sudah masa lalu. Tiga sosok mantan TNI akan beradu merebut kursi Presiden - - Soetiyoso, Prabowo, selain yang ke empat incumbent SBY - - kesemuanya saya asumsikan sulit menjadi pemenang.
Sosok berjilbab di belakang kiri saya, Syirikitsyah tampil berdiri. Mengawali pertanyaannya, tak dipungkiri adanya punjiannya terhadap Wiranto. Syirikit adalah nama yang selalu saya baca di lingkup media. Postingnya sering saya baca di milis di internet. Ketika saya memberikan kartu nama kepadanya, ia terperanjat.
“Oh ini toh …Iwan. Saya jangan ditulis ya.”
Syirikit ada memberi pengantar di buku yang diterbitkan oleh Ary Suta Centre.
Acara usai.
Bersama Zahara, saya menunggu untuk bisa bertemu Ary Suta. Wiranto datang menyalami peserta ke arah belakang, ke arah saya. Entah marah atau tidak, yang jelas orang lain disalami, saya berusaha mengulurkan tangan, seakan dilewatkan. Jika perkara hand phone berbunyi mengganjal hati Wiranto, wah betapa berdosa saya.
Untung pula saya tak jadi bertanya di forum itu, dan memang pertanyaan yang sedianya ingin saya tanyakan, tiada seorang pun yang menanyakan.
Obrolan justeru kemudian hangat bersama Sri Rachma Chandrawati, Ketua Umum Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT), yang juga Ketua Umum Perempuan Hanura. Agaknya karena ada Zahara di samping saya. Tak lama kami sambil berdiri berbicara dengan Ary Suta. Ia sibuk sekali. Ary Suta mengantarkan ke pintu tamu-tamu lain yang ingin pulang. Kami pun berlalu.
Rupanya hand phone saya yang berbunyi siang di diskusi itu, memang sesuatu yang urgent. Setelah acara itu, kawan saya mengajak bertemu di Cilandak Town Square (Citos). Rupanya siang itu telah terjadi bacok-membacok di Crew & Co, Citos, Jakarta Selatan. Salah seorang yang kena bacok membuncah darah. Susana Citos tegang. Kawan saya ingin bicara langsung, mengingatkan jangan ke Citos.
Di media online saya membaca, bahwa ada dua kubu kelompok Ambon, yang umumnya bekerja sebagai debt collector berseteru. Amat disayangkan sebuah kawasan mall, senjata macam samurai bisa lolos dibawa pengunjung. Perkelahian mengakibatkan nyawa meradang.
Ada nyawa sekarat memperebutkan uang, ada mantan pejabat yang jor-joran membelanjakan uang beriklan berseminar, ada rakyat mati kelaparan tak punya uang.
Keyakinan saya, Indonesia ke depan memang harus berubah, dan perubahan itu hampir tak mungkin lagi ditumpukan kepada mereka yang hidup di masa lalu. Termasuk dari sosok-sosok yang menjual mimpi masa lalu, walaupun dengan ketambunan uang, segalanya bisa mereka beli, termasuk nyawa seseorang. Faktanya kini waktu sudah berlalu. Keinginan terhadap Indonesia baru, memerlukan sosok dan nafas baru.
Hari ini dan ke depan, Indonesia perlu perubahan mendasar, merubah haluan keberpihakannya kepada warga, kepada rakyat kebanyakan. Saya berdoa takzim agar tidak ada lagi berita penduduk mati kurang makan. Adin yang mati tidak makan.
Iwan Piliang, presstalk.info

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Foto-Foto