Minggu, 11 Desember 2011

Politik Pangan, Indonesia Harus Berdaulat

Judul di atas merupakan judul berita Harian Kompas edisi Jumat (14 Oktober 2011) di halaman 36. Membaca berita tentang pangan negara kita hati jadi sedih dan kecewa, karena ternyata penjajah ekonomi telah sampai ke dapur dan tempat tidur kita. Kedaulatan ekonomi kita telah dirampas orang asing.

Hampir semua produk pangan utama kita adalah hasil impor. Harga=harga komoditas impor ini dibawah harga produk petani kita. Hal ini mengakibatkan petani menjerit karena harga komoditas hasil panennya jatuh dan biaya produksi tidak tertutupi.

Dituliskan di berita tersebut bahwa politik pangan yang ditegaskan pada koridor ketahanan pangan berbasiskan impor telah menyebabkan Indonesia salah berkiblat. Di dunia, orang sudah berbicara kedaulatan pangan yang jauh lebih paripurna ketimbang ketahanan pangan.

Dengan kedaulatan pangan, Indonesia tidak akan terpuaskan hanya dengan ketersediaan, keterjangkauan, kemerataan, dan keamanan pangan. Kedaulatan juga mengandung urusan demokrasi, partisipasi, hak menentukan, dan tata niaga.

Ironisnya, meskipun ketahanan pangan sudah ditegaskan sebagai tujuan utama di sektor pertanian, krisis pangan justru terus terjadi pada empat komoditas penting, yakni gula, kedelai, terigu, dan beras. Importasi gula sudah mendekati 40 persen dari produksi gula nasional. Masalah muncul ketika gula petani tidak terserap pasar dan ditekan penurunan harga akibat bocornya gula rafinasi impor ke pasar gula konsumsi.

Guru Besar Sosial-Ekonomi Agroindustri Universitas Gadjah Mada Mochammad Maksum Machfoedz, dalam diskusi terbatas Kompas dan Oxfam, menuturkan, setelah krisis gula, krisis kedelai juga muncul pada 2008, yakni ketika impor kedelai dibuka lebar. Produksi nasional yang sempat memuncak tahun 1995 sebesar 1,5 juta ton terus melorot ke level 808.000 ton pada 2005, lalu 748.000 ton (2006), dan 608.000 ton pada tahun 2007.

“Kedelai 2009 ternyata produksinya hanya 780.000 ton. Yang lebih mengejutkan, angka ramalan 11 Badan Pusat Statistik menyebutkan, produksi kedelai 2010 drop hanya 454.850 ton. Hebatnya Indonesia optimis dengan swasembada kedelai tahun 2014.” Tutur Prof. Maksum.

Mengenai terigu, kebijakan pemerintah justru membahayakan program pengalihan konsumsi dari beras ke tepung ubi. Kemudahan importasi tepung terigu telah menyebabkan industry berbasis penepungan ubi kayu (modified cassava flour/mocaf) menjadi selalu merugi karena terigu terlampau murah.

Ketika harga terigu semakin mahal menjelang eskalasi harga pangan dunia, secara ekonomis tepung ubi kayu sangat laik diproduksi tahun 2007. Kelayakan itu sempat mendorong beberapa daerah, seperti Kabupaten Trenggalek, berusaha melakukan investasi dengan menambah nilai tambah dan kesejahteraan petani singkong. Tadinya, dengan mengembangkan Mocaf Indonesia bisa mensubstitusi sebagian dari konsumsi tepung terigu yang membebani neraca pangan.

“Sayangnya, Kabinet Indonesia Bersatu jilid II melihatnya berbeda. Pada Februari 2008, terigu dinilai terlalu mahal sehingga bea masuknya dihapus. Karena belum cukup menurunkan harga, PPN (Pajak Pertambahan Nilai) pun dihapuskan. Maka, sempurnalah pembunuhan atas Mocaf itu,” kata Prof. Maksum.

Bernafsu Ekspor

Ketidak-konsistenan juga terjadi pada perberasan. Ketika harga beras di pasar dunia melonjak ke level 700 dolar AS per-ton bahkan sempat menyentuh 1.000 dolar AS per-ton pada Maret-Mei 2008, pihak-pihak yang mendorong impor beras tiba-tiba saja sangat bernafsu untuk mengekspor.

“Mereka yang pada bulan Februari 2008 membuat kebijakan untuk memudahkan impor beras dan membangun legitimasi bahwa Indonesia defisit berat dan butuh mengimpor beras tiba-tiba digantikan kampanye ekspor,” papar Machfoedz.

Lalu pada Maret 2010, Pemerintah mencanangkan swasembada pada 5 produk pangan utama, yakni beras, gula, kedelai, jagung, dan daging sapi. Ini terasa sangat politis karena daging sapi misalnya, sudah tiga tahun tertunda pencapaian swasembadanya, yakni 2000, 2005, 2010, dan nanti ditetapkan lagi 2014.

Pengamat pangan dari Ecosoc Right, Sri Palupi, mengatakan, kunci sukses yang harus dilakukan pemerintah agar tidak keliru membuat kebijakan di bidang pangan adalah turun sendiri ke lapangan, yakni dengan mengunjungi petani dan mendengar keluhannya.

“Data harus berpijak situasi riil dan masalah riil di lapangan. Dengan situasi petani dan lahan sangat ini, semua factor menunjukkan kita harus waspada karena situasinya sangat negatif,” tuturnya.

Rabu, 07 Desember 2011

Soto Betawi dan Sambal Tumpang di Dapur LSTC


Udara pagi masih terasa dingin menyentuh kulit, Lampung Sugar Training Centre (LSTC) sudah ramai. Puluhan lelaki muda berbaris di halaman di pusat pelatihan milik PT. Gunung Madu Plantations itu. PT. Gunung Madu Plantations adalah perusahaan perkebunan tebu dan pabrik gula tertua dan terbesar di Lampung, lokasinya di Km 90 Lintas Sumatera, Lampung Tengah.

Syafei Gumai, Kepala Unit Patroli Satpam GMP tampak mengomando barisan lelaki-lelaki muda tersebut. Hari itu ada acara pembekalan calon satpam. Para lelaki muda itu adalah calon satpam yang akan menerima pembekalan.

LSTC sudah sering menjadi tempat kegiatan berskala besar maupun kecil. Kesiapan tempat maupun para karyawan di sini melayani tamu-tamunya membuat tempat ini menjadi pilihan tepat untuk kegiatan perusahaan dengan peserta puluhan sampai ratusan orang.

Keramah-tamahan karyawan di sini sudah terkenal. Sikap mereka yang santun, murah senyum dan penuh hormat membuat kita serasa berada di rumah sendiri. Keakraban cepat sekali terjalin dengan para karyawan LSTC.

Pak Broto Cahyono, kepala LSCT, mengajarkan tatakrama yang apik kepada para bawahannya. Meskipun sebagai seorang pimpinan, Pak Broto tak segan-tegan memegang pekerjaan membantu anakbuahnya.
Hal itu menjadi contoh yang baik bagi para karyawan di sini untuk sigap membantu pekerjaan teman yang sedang repot.

Saya sudah lama berencana melakukan liputan tentang pelayanan di LSTC, namun baru kali ini berkesempatan melaksanakannya. Faktor waktu dan momentumnya yang membuat rencana itu tidak segera terlaksana.
Pagi itu, Kamis 3 November 2011, di sela-sela waktu luang acara pembekalan Satpam, Saya menyempatkan diri mengunjungi dapur LSTC. Dapur tempat para karyawan setempat meracik dan mengolah menu makanan dan minuman untuk para tamu yang sedang berhajat di sana.

Dengan langkah hati-hati tanpa bersuara, Saya melangkahkan kaki mendekati dapur. Dari jarak kurang dari tiga langkah dari dapur terdengar suara canda tawa. Sedang apa mereka? pikir saya. Selintas terbayang bahwa mereka sedang duduk bersantai.

Ketika tiba di ambang pintu, mata pun ditebar ke dalam dapur. Oh, ternyata mereka tengah bekerja. Ada yang menggiling cabe, ada yang mengaduk sesuatu di panci besar. Yang lainnya tengah memilah-milah sayur.
Ngobrol, bercanda, dan tertawa sambil bekerja memasak. Itulah keseharian para pekerja di LSCT. Mandor dapur, M. Sarpani, tidak diam berpangku tangan. Dia ikut ambil bagian dalam pekerjaan itu. Dalam bekerja memasak tidak terlihat lagi perbedaan mana mandor mana anakbuah.

“Di sini kami bekerja sama-sama. Tidak ada lagi mandor kalau sedang bekerja,” kata Pak Sarpani.
Menurut Sarpani, dia bisa melakukan pekerjaan apa saja, tidak pilih-pilih. Tergantung pekerjaan mana yang perlu ditangani atau siapa yang perlu dibantu.

“Selesai di dapur ini saya pindah ke ruang makan bersama Rahman. Kami menyiapkan makan para tamu sekaligus melayani mereka,” kata Sarpani. Bahkan, tambahnya, dia tidak segan-segan mencuci piring.
Di dapur LSTC ini, kata Sarpani, semua dikerjakan bersama-sama. Tidak ada yang spesialis memegang pekerjaan tertentu. Semua bisa mengerjakan. 

Istimewanya di LSTC ini, mandor tidak perlu memerintah anakbuah untuk mengerjakan pekerjaan tertentu, karena semua sudah berjalan otomatis. Tiap pekerja sudah mengerti apa yang harus dikerjakannya.
Di dapur LSTC ini ada enam pekerja termasuk mandor. Mereka adalah: M. Sarpani (mandor), Dede Sudana, Abdur Rahman, Emiyati, Sumiyati, dan Erliyana.

Kedatangan Saya ke dapur LSTC ingin tahu lebih “rahasia” di balik sedapnya sajian makanan di sini dan trik-trik penyajiannya sehingga tidak membosankan.

Soal menu, kata M. Sarpani, penyajiannya tergantung siapa yang akan dilayani. Ada fleksibilitas penyajian menu. Biasanya Pak Broto turun langsung mengontrolnya. Tak jarang kepala LSTC itu sendiri yang menentukan apa-apa saja yang harus disajikan kepada tamu.

“Pak Broto sangat memperhatian selera para tamu,” kata Sarpani. Yang disuguhkan kepada tamu adalah menu-menu yang jarang ditemui para tamu sehari-hari.
“Kalau tamunya kelas-kelas manager, maka menu yang kami berikan sayur asam, bayam bening, sambal terasi. Makanan ringannya pisang dan ubi rebus,” kata Pak Broto.
“Kalau menu seperti daging, ayam dan yang mewah-mewah sudah biasa mereka makan di rumah,” tambah Pak Broto.
Sebaliknya, kalau untuk karyawan atau calon karyawan menu yang disuguhkan yang berat-berat, seperti rendang daging, sate dan ikan bakar.

Dengan pola seperti itu, kata Pak Broto, menu yang disajikan pasti habis. “Kita puas jika makanan yang kita berikan dimakan habis,” ujar Pak Broto.

Tentang menu unggulan, Dapur LSCT pun memilikinya. Jika di Guest House ada sup buntut dan kopi hitam. Di sini ada menu yang jadi andalan dan dijamin mengundang selera, yakni soto betawi dan sambalnya. Sambal di sini ada beragam, semuanya enak dan membuat ketagihan. Ada sambal terasi mentah, sambal goreng, dan sambal tumpah.

Soto betawi dan sambal buatan dapur LSTC ini sudah diakui kelezatannya oleh para tamu, kata Mandor LSTC, M. Sarpani. Mereka sering mendapat pujian karena kelezatan soto betawi dan sambalnya. 

Rasa soto betawi racikan dapur LSTC tidak kalah sedapnya dengan soto betawi di Jln. Raden Intan Bandar Lampung. Kuahnya kental bersantan dengan taburan kerupuk emping dan irisan tomat di atasnya.

“Yang sering dicari para manager bila menghadiri acara di sini adalah sambal tumpah,” kata Pak Broto.
Tentang etos kerja di LSTC, Pak Broto telah membina anakbuahnya memiliki standar kerja yang elegan dengan azas kesetaraan, namun tetap menjunjung tinggi tatakrama dan etika kesopanan terhadap tamu.

“Karyawan di sini menghargai tamu setinggi-tingginya. Tapi jangan sekali-kali mengkacungkan mereka. Semua tamu dihormati, tapi jangan meremehkan mereka kalau tidak mau rasa hormat itu hilang,” tegas Pak Broto sambil memberi contoh kasus anakbuahnya diremehkan tamu, yang kemudian membuat si tamu malu sendiri atas ulahnya.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Foto-Foto