Jumat, 07 Oktober 2011

Kisah Para Penjaga Gerbang

“Selamat pagi, Pak? Ada yang bisa dibantu?” 

Sapaan ramah itu meluncur dari Pak Kahartono, anggota Satpam Pos Maingate (gerbang utama)  PT Gunung Madu Plantations seraya memberi hormat kepada seorang tamu, pengendara mobil pribadi. 

Si tamu yang sejak mendekati pos maingate sudah menurunkan kaca pintu mobilnya, tersenyum sambil memberitahu keperluannya. Setelah memberi petunjuk arah yang harus dituju, Pak Kahar pun meminta si pengendara mobil menitipkan SIM di pos. “Mohon SIM-nya ditinggal di pos, Pak,” kata Pak Kahar ramah.

Kesiapan, kesigapan, dan keramahan melayani tamu-tamu yang masuk ke PT. Gunung Madu Plantations, Lampung Tengah, sudah menjadi keseharian para petugas Satpam di pos Maingate. Sopan dan ramah sudah menjadi performance wajib petugas di pos ini. Selain itu, mereka juga dituntut selalu berpenampilan rapi dengan wajah berseri. Tak peduli di rumah ada masalah atau tidak, yang penting ketika tiba di pos, anggota harus menunjukkan sikap ramah dan bersahabat.

“Orang yang kami layani bermacam ragam karakternya. Latar belakang sosialnya pun berbeda,” kata Kepala Unit Satpam Research & Development (R&D) yang membawahi Pos Maingate, Tri Sujatmiko. Dia menggambarkan, tak jarang tamu yang datang adalah pejabat, orang berpangkat, bahkan petugas keamanan. Suka duka mereka rasakan setiap hari di pos ini ketika berhadapan dengan bermacam karakter orang.

“Tugas kami di sini melayani, tetapi kami juga harus menjalankan peraturan yang ada,” kata Pak Mulyanto, Wakanit Satpam R&D. Karena itu pula, kata Pak Mul, dalam menjalankan tugas mereka sering berhadapan dengan orang yang minta dilayani, tetapi mengabaikan peraturan.

“Suatu kali ada tamu marah-marah ketika ditanya tujuannya dan diminta menitipkan SIM di Pos. Sambil mengisap cangklong orang itu ngomel-ngomel, menyalahkan perusahaan yang banyak birokrasi,” kata Pak Mul. 

“Padahal, kita menanyakan tujuannya untuk memudahkan para tamu juga. Kalau tahu tujuannya, kita bisa membantu menunjukkan arah,” kata Tri Sujatmiko menyambung ucapan Pak Mul.

Yang repot, timpal Kahartono, menghadapi tamu yang mengaku kenal sama pimpinan, tetapi dia tidak bersedia mengikuti peraturan kita. “Ditanya mau kemana, dia marah. Diminta SIM, dia membentak,” kata Kahar. Padahal, tambah Kahar, kalau si tamu tersesat di dalam, yang dimarahi ya petugas di Pos Maingate karena dianggap tidak melayani tamu dengan baik.

Kerepotan sering terjadi ketika melayani para sopir yang mengambil SIM. Para sopir biasa menyuruh kernetnya mengambil SIM di pos, biasanya mereka terburu-buru jika hendak keluar Maingate. Di sini sering terjadi masalah. SIM tertukar karena kesamaan nama. 

Pengalaman pahit pernah dialami Pak Mul dan Marwan Balau lantaran ada SIM tertukar. Pak Mul suatu hari harus berangkat ke Bandar Lampung, menyusul sopir truk gula yang membawa SIM orang lain. “Ketika saya tiba di rumah si sopir di Bandar Lampung, orangnya sudah berangkat ke Jakarta membawa SIM yang tertukar itu,” kata Pak Mul terkekeh mengenang pengalamannya.

Hal serupa juga dialami Marwan Balau, meskipun tidak seberat Pak Mul. Ketika dia bertugas mencatat tamu keluar-masuk, ada SIM yang tertukar. “Untungnya sopir yang lebih dulu keluar itu, rumahnya di Yukum. Saya susul ke rumahnya, Alhamdulillah ketemu,” kenang Marwan tersenyum.

“Dibalik suka dan duka bertugas di Pos Maingate, terselip kisah-kisah lucu meskipun kadang menjengkelkan,” kata Tri Sujatmiko.

Suatu ketika ada tamu datang ke pos. Dia melapor ingin ke rumah familinya bernama si “A”. Menurut tamu tadi, familinya itu minta dia menyebutkan namanya di pos satpam, anggota satpam pasti tahu. Nama yang disebut itu, di Gunung Madu ini, kata Tri Sujatmiko ada hampir 20 orang. “Kita bingung, siapa yang dimaksud?” tuturnya.

Yang sering pula terjadi dan dialami hampir semua anggota satpam di Maingate adalah telepon tanpa identitas. Yang dimaksud telepon tanpa identitas adalah ada yang nelpon ke pos tanpa menyebutkan nama dan dari mana.

“Telpon bordering, ketika diangkat dari seberang terdengar suara ‘Pak, anak saya sudah sampai belum di sana?’. Kita bingung menjawabnya, anak yang mana yang dimaksud? Ketika ditanya dari siapa, telpon sudah ditutup,” kata Marwan Balau menceritakan pengalamannya.

Ada juga yang melalui telepon menitipkan anaknya agar dicarikan tumpangan masuk ke housing, kata Tri Sujatmiko. “Yang mau dicarikan tumpangan siapa? Di sini banyak sekali orang, dan dia sendiri tidak member tahu dirinya siapa?” kata Kanit Satpam R&D itu. 

“Mereka menyangka satpam di Post Maingate ini kenal semua orang di dalam,” katanya sambil terkekeh.
Kalau soal sukanya bertugas di Pos Maingate, kata Pak Mul, banyak juga sukanya. Ada isteri manajer yang kalau keluar atau masuk selalu memberi buah kepada satpam di sini. 

“Isteri Pak Sutarto sering member kami buah,” kata Pak Mul. Ada juga pedagang makanan yang bermurah hari membagi sedikit dagangannya. Ada pisang goring, kerupuk, kue, bahkan kacang goreng. Cukuplah untuk teman minum kopi.

Satpam di Pos Maingate ini berjumlah 14 orang, termasuk kanit dan wakanit. Mereka dibagi dalam tiga regu: Regu A (Sugondo, Deni Sumpena, Ah. Nahrowi, Yuslihun), Regu B (Gunawan B, Joni Mawardi, Supriyono, Agustinus Robert W), Regu C (Kahartono, Roni Wakasala, Marwan Balau, B.J. Hunter Simamora).

Selamat Pagi

Pagi ini udara terasa lebih segar dibanding kemarin, setidaknya di tempat saya. Matahari bersinar terang tanpa penghalang. Suasana cerah ini saya rasakan mungkin karena pagi ini saya berada di perumahan di tengah-tengah areal perkebunan tebu.

Perumahan di sini ditata lebih asri dengan pepohonan yang sengaja ditanam untuk mengimbangi polusi udara pabrik gula dan debu. Jumlah populasi pepohonan di komplek perumahan ini jauh lebih banyak dibanding jumlah rumah. Belum lagi rumput-rumput hijau yang tumbuh di perkantoran, pekarangan rumah, dan lapangan sepakbola, yang membuat segar udara dan pemandangan. Rerumputan itu tetap hijau meskipun musim kemarau, karena setiap pagi, siang dan sore disiram air.

Meskipun kemarau di sini tidak pernah kekurangan air. Banyak lebung (rawa) yang dijadikan tandon air, sehingga air tetap melimpah meskipun kemarau panjang.

Tempat itu dinamakan Perumahan 2 PT. Gunung Madu Plantations. Dinamakan Perumahan 2, karena PT. Gunung Madu Plantations atau PT. GMP memiliki 6 perumahan. Ke-tujuh perumahan itu adalah: Perumahan Site A, Perumahan 1, Perumahan 2, Perumahan 3, Perumahan 4, dan Perumahan 6. Perumahan 2 adalah “ibukota”-nya PT. GMP. Di Perumahan 2 ini berdiri pabrik gula, Kantor Pusat Manajemen. General Manager dan tiga kepala departemen berkantor di Perumahan 2.

Pagi ini sebenarnya saya tidak puny ide menulis. Kalau pun tulisan ini saya buat dan saya tayangkan di kompasiana, itu untuk memenuhi target menulis saya. Saya membuat target untuk diri sendiri untuk menulis setiap hari. Hitung-hitung berlatih agar kemampuan menulis tidak hilang. Siapa tahu ada kompanianer yang memberi pencerahan melalui komentarnya dan bisa saya jadikan pemacu semangat.

Saya jadi ingat salah satu tulisan Pak Jonru di kursus menulis.com, bahwa menulis itu bukanlah teori, tetapi praktek. Tulis saja apa yang ingin ditulis, tidak perlu banyak berpikir. Soal kesalahan kata atau kalimat bisa diperbaiki setelah selesai menulis. Begitulah kira-kira panduannya.

Memang betul apa yang dikatakan Pak Jonru dalam tulisannya bahwa menulis adalah tindakan. Jika kita terlalu banyak berpikir dan banyak pertimbangan,maka jangan harap tulisan itu akan jadi. Pada mulanya kita memang dihantui rasa takut untuk menulis: takut dicela, takut tulisannya jelek, takut ditertawakan dll.

Rasa takut seperti itu merupakan penghalang-penghalang yang harus kita singkirkan dari pikiran kita. Jika tidak, kita tidak akan pernah menjadi penulis. Bagaimana bisa menulis, belum apa-apa sudah digayuti rasa takut dan cemas. Padahal, apa yang kita cemaskan itu belum tentu jadi kenyataan. Kalaupun ada kritikan atau celaan, itu bisa kita jadikan doping pemacu semangat menulis kita. Perbaiki apa yang salah, lalu menulis lagi.

Tulisan ini bukanlah sebuah tips, tetapi hanya sekedar sharing. Saya beritahu kepada Anda sekalian bahwa saya sangat berterimakasih kepada Kompas yang meluncurkan produknya: kompasiana. Melalui kompasiana saya bisa menyalurkan hobi menulis. Saya puas karena tulisan yang diupload ke kompasiana pasti dimuat dan dibaca orang.

Sejak saya menulis di kompasiana beban pikiran dan batin saya menjadi enteng. Saya merasa lebih sehat dari sebelumnya. Derita karena penyakit asma yang mendera saya sejak bulan Maret 2011 sedikit-demi sedikit berkurang karena saya menulis di kompasiana. Stress hilang karena saya menulis

Kematian


Misterikah kematian? Bukan! Kematian bukan sebuah misteri, tetapi suatu kepastian dan nyata. Seperti disebutkan dalam kitab suci bahwa setiap yang mempunyai nyawa pasti mati. Saya, kamu, dan semua mahluk hidup di muka bumi ini, pasti mati.

Yang menjadi misteri bukanlah kematian, tetapi kapan kematian itu datang. Kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Yang tua belum tentu lebih cepat mati dari yang muda. Jika ada yang berani mengatakan bahwa dia tahu kapan seseorang akan mati. Maka, orang itu adalah pembohong. Disebutkan di dalam Al Quran, bahwa rejeki, jodoh, dan maut adalah mutlak hanya Allah yang tahu.

Hari Sabtu (24/9/2011), salah satu warga di kampung saya mendapat musibah ditinggal mati puterinya sematawayang. Anak berusia 4 bulan itu meninggal lantaran diare yang sudah diderita selama empat hari.
Ayah dan ibu si anak menangis tiada henti hingga tiada lagi air mata yang keluar, yang tinggal hanya sedu-sedan. Keesokan harinya, saat si bayi mau dikubur, ayah dan ibu masih berduka. Terlihat kesedihan mendalam di wajah si ayah. Sementara si ibu hanya bisa terkulai tak berdaya, duduk bersandar di pembaringan.

Mengapa mereka bersedih? Sedih karena anaknya pergi? Atau sedih karena mereka ditinggal?
Iya, iyalah, pasti bersedih dong! Namanya juga ditinggal mati anak satu-satunya.

Saya jadi teringat satu penggal tulisan mendiang Asmaraman S. Kho Ping Ho, penulis cerita silat cina. Dalam setiap judul ceritanya pasti ada ulasan tentang hidup dan mati, sedih dan gembira. Pesan-pesan penuh makna yang ditulisnya dikemas dalam bentuk dialog para tokoh dalam ceritanya.

Hidup dan mati, sedih dan gembira ibarat dua sisi mata uang. Keduanya tidak terpisahkan. Ada hidup, ada mati. Ada sedih, pasti ada gembira.

Pertanyaannya, mengapa kita bersedih? Apakah kita menangisi orang yang kembali ke pangkuan penciptanya? Ataukah kita menangis karena kehilangan?

Sebenarnya, yang kita tangisi adalah diri kita sendiri. Kita egois. Meratap karena orang yang kita kasihi pergi. Padahal, kita berduka karena orang yang membuat kita gembira, bahagia telah pergi. Sebenarnya kita memang egois. Yang dipentingkan hanya diri kita sendiri. Kita menangis bukan lantaran kasihan tehadap yang mati, tetapi menangisi diri sendiri.
Yang mati kembali kepada Yang Menciptakannya. Bayi adalah sesosok anak manusia belum bernoda. Dia lahir suci, dan kembali kepada Sang Khalik pun dalam keadaan suci. Dia akan bahagia hidup di alam sana. Ada yang menyayangi dan mengasihinya.

Nah, kita, orang tua yang ditinggal, mengapa harus bersedih? Bukankah anak kita bahagia di pangkuan Sang Pencipta? Tidak ada alasan untuk menangis, kecuali ego diri.

Rasa ego membuat kita lupa bahwa kita bukan siapa-siapa. Setelah merasa kehilangan, kita biasanya mencari kambing hitam untuk sasaran kemarahan, tak terkecuali tuhan. Buktinya, seorang ayah atau ibu, yang kehilangan anak kesayangan, akan menjerit “Tuhaaaannn! Mengapa kau ambil anak kamiiiii…?”. Sebuah teriakan tanpa rasa bersalah.
Padahal, jika kita mau introspeksi diri, kita ini adalah gudangnya dosa dan kesalahan. Mungkin Tuhan tidak mau hambanya yang suci bersih diasuh oleh seorang penuh dosa, sehingga si bayi diambil kembali.

Atau mungkin Tuhan memperingatkan kepada kita, bahwa Dia-lah yang maha berkuasa dan maha berkehendak terhadap seluruh hamba. Maka, Dia tunjukkan bahwa di tangan-Nya nyawa manusia berada. Dalam genggamannyalah nasib kita. Dan, kepada Dia-lah kita dan seluruh alam bergantung.

Terkadang, kita menjumpai banyak orang yang takut akan kematian lantaran dibayang-bayangi dosa. Tetapi, mereka tidak mau insyaf dan bertobat.

“Saya belum mengerjakan sholat karena belum ada panggilan,” ucap seorang tetangga saya. Masya Allah! Belum ada panggilan, katanya? Bukankan panggilan Allah itu berkumandang lima kali sehari dari masjid dan mushola?
Itulah salah satu bentuk kesombongan manusia. Dia merasa dibutuhkan oleh Sang Maha Pencipta, padahal dialah yang membutuhkan Tuhan. Dia tidak sadar bahwa kitalah para hamba yang membutuhkan Allah Yang Maha Agung

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Foto-Foto