Rabu, 26 Oktober 2011

Jabatkan Tangan, Sucikan Hati


 Adzan penanda shalat Isya’ baru saja berkumandang dari Masjid Al Ikhlas Perumahan II PT. GMP, para tamu sudah berdatangan ke Gedung Grha Swagata Gurna (GSG). Hari ini adalah Jumat , 23 September, malam Sabtu, di GSG ada acara makan malam, yang diselenggarakan Factory Departement PT. Gunung Madu Plantations. 

Di barisan kursi paling depan terlihat sudah hadir General Manager PT. GMP, H.M. Jimmy Mahshun, didampingi Kadep Factory, Alex Kesaulya dan para kepala divisi (Ir.H. Desmal Zainuddin serta H. Yuliastono, ST), Pak Syamsani, dan Pak Paul.

Masih di barisan depan berjarak 1 meter dari kursi para manager, tampak para pengurus IIK lingkup Departemen Factory. Diantaranya, Ny. Desmal , Ny. Yuliastono, Ny. Syamsani dll.

Ketika penulis  tiba di dalam gedung, masih banyak kursi di bagian belakang yang belum terisi. Meskipun demikian, hiburan tunggal tetap berjalan. Yang tampil sebagai penghibur pada malam itu adalah grup nasyid Galaxi dari Unila, Bandar Lampung. Grup ini hanya terdiri dari 4 personil, semuanya mahasiswa Universitas Lampung.

Lagu-lagu yang mereka bawakan semuanya bernuansa islami, yang diambil dari berbagai album lagu religius di Tanah Air. Lagu-lagu yang mereka bawakan semuanya klop dengan suasana malam itu, yakni halal bihalal, saling memaafkan untuk mencapai kebersihan hati.

Seirng berputar waktu, tamu pun makin banyak berdatangan. Satu demi satu tempat duduk mulai terisi. Suasana gedung kian ramai. Nuansa kekeluargaan sangat kental terasa, apalagi para karyawan dan staf masing-masing datang bersama keluarga.

Di jajaran Perusahaan PT. GMP, khususnya tingkat departemen, Factory yang terakhir menyelenggarakan acara halal bihalal. Departemen lain seperti SBF, Plantations, dan R&D sudah lebih dahulu menyelenggarakan halal bihalal. Satu minggu sebelum Departemen Factory ini, Departemen R&D mengadakan halal bihalal di Site A, yang dipusatkan di halaman LSTC (Lampung Sugar Training Centre).

Setelah mendengarkan lantunan suara grup nasyid Galaxi yang membawakan beberapa judul lagu religi, pembawa acara mengumumkan bahwa acara pokok segera dimulai. Sang Pembawa Acara pun kemudian membuka acara dengan bacaan basmalah. Mata acara berikutnya adalah sambutan Kepala Departemen Factory, Alex Kesaulya.

Pak Alex menyampaikan betapa pentingnya saling memaafkan antara sesam rekan kerja, atasan memaafkan bawahan, bawahan memaafkan atasan. “Mari berjabat tangan dan sucikan hati, untuk meraih kesuksesan dalam kebersamaan,” katanya kepada seluruh jajaran Departemen Factory.

Menurut Pak Alex, kekompakan para karyawan, staf, dan pimpinan menjadi modal dasar untuk mencapai target produksi. Karena keberhasilan yang dicapai salama ini adalah berkat kekompakan semua elemen yang ada. 

“Tanpa ada kekompakan, maka jangan berharap target bisa tercapai,” tegas Pak Alex dalam sambutan singkatnya.

Acara halal bihalal Departemen Factory ini bertema “Jabatkan Tangan, Sucikan Hati. Raih Kesuksesan dalam Kebersamaan”.

Usai mendengarkan sambutan Kepala Departemen Factory, Alex Kesaulya, acara berlanjut ke ceramah agama sekaligus doa. Pada malam itu, pihak panitia menghadirkan K.H. Imam Rofi’I dari Kota Metro sebagai penceramah. 

K.H. Imam Rofi’I dalam ceramahnya mengajak para hadirin mengenali penyakit hati, yakni: sombong, ujub (riya’), iri dan dengki, pelit (kikir), dan pemarah.

“Allah melarang kita iri pada yang lain karena rezeki yang mereka dapat itu sesuai dengan usaha mereka dan juga sudah jadi ketentuan Allah,” kata K.H. Imam Rofi’i.

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisaa’ 32].

Dengki lebih parah dari iri. Orang yang dengki ini merasa susah jika melihat orang lain senang. Dan merasa senang jika orang lain susah. Tak jarang dia berusaha mencelakakan orang yang dia dengki baik dengan lisan, tulisan, atau pun perbuatan. Oleh karena itu Allah menyuruh kita berlindung dari kejahatan orang yang dengki.

Jumat, 07 Oktober 2011

Kisah Para Penjaga Gerbang

“Selamat pagi, Pak? Ada yang bisa dibantu?” 

Sapaan ramah itu meluncur dari Pak Kahartono, anggota Satpam Pos Maingate (gerbang utama)  PT Gunung Madu Plantations seraya memberi hormat kepada seorang tamu, pengendara mobil pribadi. 

Si tamu yang sejak mendekati pos maingate sudah menurunkan kaca pintu mobilnya, tersenyum sambil memberitahu keperluannya. Setelah memberi petunjuk arah yang harus dituju, Pak Kahar pun meminta si pengendara mobil menitipkan SIM di pos. “Mohon SIM-nya ditinggal di pos, Pak,” kata Pak Kahar ramah.

Kesiapan, kesigapan, dan keramahan melayani tamu-tamu yang masuk ke PT. Gunung Madu Plantations, Lampung Tengah, sudah menjadi keseharian para petugas Satpam di pos Maingate. Sopan dan ramah sudah menjadi performance wajib petugas di pos ini. Selain itu, mereka juga dituntut selalu berpenampilan rapi dengan wajah berseri. Tak peduli di rumah ada masalah atau tidak, yang penting ketika tiba di pos, anggota harus menunjukkan sikap ramah dan bersahabat.

“Orang yang kami layani bermacam ragam karakternya. Latar belakang sosialnya pun berbeda,” kata Kepala Unit Satpam Research & Development (R&D) yang membawahi Pos Maingate, Tri Sujatmiko. Dia menggambarkan, tak jarang tamu yang datang adalah pejabat, orang berpangkat, bahkan petugas keamanan. Suka duka mereka rasakan setiap hari di pos ini ketika berhadapan dengan bermacam karakter orang.

“Tugas kami di sini melayani, tetapi kami juga harus menjalankan peraturan yang ada,” kata Pak Mulyanto, Wakanit Satpam R&D. Karena itu pula, kata Pak Mul, dalam menjalankan tugas mereka sering berhadapan dengan orang yang minta dilayani, tetapi mengabaikan peraturan.

“Suatu kali ada tamu marah-marah ketika ditanya tujuannya dan diminta menitipkan SIM di Pos. Sambil mengisap cangklong orang itu ngomel-ngomel, menyalahkan perusahaan yang banyak birokrasi,” kata Pak Mul. 

“Padahal, kita menanyakan tujuannya untuk memudahkan para tamu juga. Kalau tahu tujuannya, kita bisa membantu menunjukkan arah,” kata Tri Sujatmiko menyambung ucapan Pak Mul.

Yang repot, timpal Kahartono, menghadapi tamu yang mengaku kenal sama pimpinan, tetapi dia tidak bersedia mengikuti peraturan kita. “Ditanya mau kemana, dia marah. Diminta SIM, dia membentak,” kata Kahar. Padahal, tambah Kahar, kalau si tamu tersesat di dalam, yang dimarahi ya petugas di Pos Maingate karena dianggap tidak melayani tamu dengan baik.

Kerepotan sering terjadi ketika melayani para sopir yang mengambil SIM. Para sopir biasa menyuruh kernetnya mengambil SIM di pos, biasanya mereka terburu-buru jika hendak keluar Maingate. Di sini sering terjadi masalah. SIM tertukar karena kesamaan nama. 

Pengalaman pahit pernah dialami Pak Mul dan Marwan Balau lantaran ada SIM tertukar. Pak Mul suatu hari harus berangkat ke Bandar Lampung, menyusul sopir truk gula yang membawa SIM orang lain. “Ketika saya tiba di rumah si sopir di Bandar Lampung, orangnya sudah berangkat ke Jakarta membawa SIM yang tertukar itu,” kata Pak Mul terkekeh mengenang pengalamannya.

Hal serupa juga dialami Marwan Balau, meskipun tidak seberat Pak Mul. Ketika dia bertugas mencatat tamu keluar-masuk, ada SIM yang tertukar. “Untungnya sopir yang lebih dulu keluar itu, rumahnya di Yukum. Saya susul ke rumahnya, Alhamdulillah ketemu,” kenang Marwan tersenyum.

“Dibalik suka dan duka bertugas di Pos Maingate, terselip kisah-kisah lucu meskipun kadang menjengkelkan,” kata Tri Sujatmiko.

Suatu ketika ada tamu datang ke pos. Dia melapor ingin ke rumah familinya bernama si “A”. Menurut tamu tadi, familinya itu minta dia menyebutkan namanya di pos satpam, anggota satpam pasti tahu. Nama yang disebut itu, di Gunung Madu ini, kata Tri Sujatmiko ada hampir 20 orang. “Kita bingung, siapa yang dimaksud?” tuturnya.

Yang sering pula terjadi dan dialami hampir semua anggota satpam di Maingate adalah telepon tanpa identitas. Yang dimaksud telepon tanpa identitas adalah ada yang nelpon ke pos tanpa menyebutkan nama dan dari mana.

“Telpon bordering, ketika diangkat dari seberang terdengar suara ‘Pak, anak saya sudah sampai belum di sana?’. Kita bingung menjawabnya, anak yang mana yang dimaksud? Ketika ditanya dari siapa, telpon sudah ditutup,” kata Marwan Balau menceritakan pengalamannya.

Ada juga yang melalui telepon menitipkan anaknya agar dicarikan tumpangan masuk ke housing, kata Tri Sujatmiko. “Yang mau dicarikan tumpangan siapa? Di sini banyak sekali orang, dan dia sendiri tidak member tahu dirinya siapa?” kata Kanit Satpam R&D itu. 

“Mereka menyangka satpam di Post Maingate ini kenal semua orang di dalam,” katanya sambil terkekeh.
Kalau soal sukanya bertugas di Pos Maingate, kata Pak Mul, banyak juga sukanya. Ada isteri manajer yang kalau keluar atau masuk selalu memberi buah kepada satpam di sini. 

“Isteri Pak Sutarto sering member kami buah,” kata Pak Mul. Ada juga pedagang makanan yang bermurah hari membagi sedikit dagangannya. Ada pisang goring, kerupuk, kue, bahkan kacang goreng. Cukuplah untuk teman minum kopi.

Satpam di Pos Maingate ini berjumlah 14 orang, termasuk kanit dan wakanit. Mereka dibagi dalam tiga regu: Regu A (Sugondo, Deni Sumpena, Ah. Nahrowi, Yuslihun), Regu B (Gunawan B, Joni Mawardi, Supriyono, Agustinus Robert W), Regu C (Kahartono, Roni Wakasala, Marwan Balau, B.J. Hunter Simamora).

Selamat Pagi

Pagi ini udara terasa lebih segar dibanding kemarin, setidaknya di tempat saya. Matahari bersinar terang tanpa penghalang. Suasana cerah ini saya rasakan mungkin karena pagi ini saya berada di perumahan di tengah-tengah areal perkebunan tebu.

Perumahan di sini ditata lebih asri dengan pepohonan yang sengaja ditanam untuk mengimbangi polusi udara pabrik gula dan debu. Jumlah populasi pepohonan di komplek perumahan ini jauh lebih banyak dibanding jumlah rumah. Belum lagi rumput-rumput hijau yang tumbuh di perkantoran, pekarangan rumah, dan lapangan sepakbola, yang membuat segar udara dan pemandangan. Rerumputan itu tetap hijau meskipun musim kemarau, karena setiap pagi, siang dan sore disiram air.

Meskipun kemarau di sini tidak pernah kekurangan air. Banyak lebung (rawa) yang dijadikan tandon air, sehingga air tetap melimpah meskipun kemarau panjang.

Tempat itu dinamakan Perumahan 2 PT. Gunung Madu Plantations. Dinamakan Perumahan 2, karena PT. Gunung Madu Plantations atau PT. GMP memiliki 6 perumahan. Ke-tujuh perumahan itu adalah: Perumahan Site A, Perumahan 1, Perumahan 2, Perumahan 3, Perumahan 4, dan Perumahan 6. Perumahan 2 adalah “ibukota”-nya PT. GMP. Di Perumahan 2 ini berdiri pabrik gula, Kantor Pusat Manajemen. General Manager dan tiga kepala departemen berkantor di Perumahan 2.

Pagi ini sebenarnya saya tidak puny ide menulis. Kalau pun tulisan ini saya buat dan saya tayangkan di kompasiana, itu untuk memenuhi target menulis saya. Saya membuat target untuk diri sendiri untuk menulis setiap hari. Hitung-hitung berlatih agar kemampuan menulis tidak hilang. Siapa tahu ada kompanianer yang memberi pencerahan melalui komentarnya dan bisa saya jadikan pemacu semangat.

Saya jadi ingat salah satu tulisan Pak Jonru di kursus menulis.com, bahwa menulis itu bukanlah teori, tetapi praktek. Tulis saja apa yang ingin ditulis, tidak perlu banyak berpikir. Soal kesalahan kata atau kalimat bisa diperbaiki setelah selesai menulis. Begitulah kira-kira panduannya.

Memang betul apa yang dikatakan Pak Jonru dalam tulisannya bahwa menulis adalah tindakan. Jika kita terlalu banyak berpikir dan banyak pertimbangan,maka jangan harap tulisan itu akan jadi. Pada mulanya kita memang dihantui rasa takut untuk menulis: takut dicela, takut tulisannya jelek, takut ditertawakan dll.

Rasa takut seperti itu merupakan penghalang-penghalang yang harus kita singkirkan dari pikiran kita. Jika tidak, kita tidak akan pernah menjadi penulis. Bagaimana bisa menulis, belum apa-apa sudah digayuti rasa takut dan cemas. Padahal, apa yang kita cemaskan itu belum tentu jadi kenyataan. Kalaupun ada kritikan atau celaan, itu bisa kita jadikan doping pemacu semangat menulis kita. Perbaiki apa yang salah, lalu menulis lagi.

Tulisan ini bukanlah sebuah tips, tetapi hanya sekedar sharing. Saya beritahu kepada Anda sekalian bahwa saya sangat berterimakasih kepada Kompas yang meluncurkan produknya: kompasiana. Melalui kompasiana saya bisa menyalurkan hobi menulis. Saya puas karena tulisan yang diupload ke kompasiana pasti dimuat dan dibaca orang.

Sejak saya menulis di kompasiana beban pikiran dan batin saya menjadi enteng. Saya merasa lebih sehat dari sebelumnya. Derita karena penyakit asma yang mendera saya sejak bulan Maret 2011 sedikit-demi sedikit berkurang karena saya menulis di kompasiana. Stress hilang karena saya menulis

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Foto-Foto